Sabtu, 18 Juni 2011

Ada kisah yang tak pernah usai...


Seperti kisahku bersama dia. Mungkin hanya kisah asmara biasa bagi segelintir orang, tapi sungguh bagiku ini bukan kisah biasa. Mengapa kupilih dia untuk menjadi kisahku? Karena harus kuakui dari dia, dari kisah kami, aku di titik minus plus. Bukan sekedar asmara, ada belajar, ada hidup, ada ekspresi, ada fatal, ada kekerasan, dan aku harus jujur, ada rumah tangga disitu.
Tiga tahun berlalu, aku masih tetap sama. Mengingat dan terus mengenang, bahkan memoriku bekerja sangat baik pada setiap detail 4,5 tahun yang kami jalani bersama. Tulisan ini kupersembahkan untuk dia yang genap berusia 29 tahun tepat hari ini.


Nong... sapaanku padanya. Tak sengaja bertemu di momen kebersamaan kelompok sewaktu kuliah. Masih dengan gaya lama, menitip - menerima - lalu membalas salam. Ada cerita lucu disini, saat itu aku bahkan belum tahu rupanya seperti apa. Diotakku terbayang seorang senior yang sempat melirikku pada malam puncak acara, dan untungnya kufikir dia orang yang sama yang menitip salam.



Kekeliruanku terkuak saat dia hendak berkunjung ke kosanku. Mandi bersih, rambut ditata klimaks, hampir setengah botol parfum kuhabiskan saking gugupnya. Lalu duduk manis dan menunggu jam 7 malam janjian kami.


"Maaf cari siapa?" aku bertanya ketika seseorang mengetuk lembut pintu kamarku. 
"Lely.." ucapnya pelan sedikit terkejut mendengar pertanyaanku. 
"Saya Lely, kakak siapa?" lanjutku kebingungan.
"Saya Riez" ungkapnya.
Gubrak! Singkat padat dan merah semulah wajahku mendengarnya. Rupanya aku salah kenal, ini sosok asli makluk yang kubalas salamnya. Langsung kupersilahkan masuk walau sedikit canggung karena ketahuan asal nyeplak salam.
Hehe itulah awal kisah kami. Lewat tiga kali pertemuan, tanpa basa basi dia langsung memintaku menjadi kekasihnya kala itu. Ember bersambut, kuiyakan saja tanpa banyak pikir. Toh simpatiku pun sudah tumbuh.
Persis empat bulan hubungan kami, kekerasan pertama dimulai. Pisau ditodongkan ke leherku saat kami bertengkar. Aku, yang sedari kecil akrab dengan kekerasan dari orang tua dan kakak-kakakku, menjadi ciut ketika harus pula dikasari oleh orang lain. Namun entah mengapa, atau saat itu ada ketergantungan sebagai perempuan kepada laki-lakinya, maka aku memilih tetap bertahan.

Tahun berlalu, kekerasan dilanjutkan ke tahun-tahun berikutnya. Kekerasan itu makin mudah ketika kami mulai tinggal bersama. Hubungan kali ini diketahui oleh keluarga walau ada beberapa hal yang kusembunyikan seperti hidup bersama tadi. Sampai puncaknya, aku mendapat operasi ringan dan menjalani perawatan intensif. Saat itu dia mabuk, aku dihajar habis-habisan sampai bebak belur seluruh tubuh. Beruntung empati tetangga kanan kiri cukup baik terhadapku sehingga akupun sedikit mendapat perlindungan. Kacau, kalut, tanpa ide. 


Seketika itu aku memutuskan untuk tidak lagi bersama. Konyolnya hal ini langsung ditentang serempak justru oleh keluargaku sendiri.Bahkan sempat keuanganku macet ketika aku tetap bersikukuh pada keputusan itu.

Tidak banyak yang kuharapkan selain kembali bersama. Karena aku lemah maka satu-satunya senjata yang kugunakan untuk membalasnya yakni berpaling dan membuatnya sakit hati. Ini terjadi beberapa kali, hanya untuk melihat bagaimana dia merasakan sakit seperti aku.Api dalam sekam, begitulah hubungan kami dipenuhi dengan aksi balas membalas sambil menunggu kapan sekam itu terbakar habis.

Puncaknya, kami akhiri menjelang wisudaku. Dia tetap tunjukan tanggung jawabnya sebagai laki-laki dengan membantu apa saja yang bisa dia bantu. Walau restu keluarga sudah ditangan, hampir tak ada penghalang yang berarti, namun kami tetap tidak dapat bersama lagi. Bukan karena kekerasan yang terjadi selama 4,5 tahun bersama. Detik ini jika ditanya, aku pun tak bisa menjawab apa yang membuat kami tak bisa bersama lagi. 



Namanya.. sampai sekarang masih sering dikumandangkan orang tuaku. Aku tak bisa berbuat banyak selain menyimpan rasa yang tak pernah hilang. Pernah kami kembali bertemu di penghujung tahun lalu, herannya tak satupun dari kami memulai pembicaraan lebih jauh. Hanya sebatas basa basi lantas dia kembali ke daerahnya. Kerinduan juga keengganan menjadi dilema bagiku sehingga tak berani bersuara.Walau begitu aku masih nyaman bergelayut dalam kenangan kami bersama.


Akhirnya, banyak sekali kesan tentang dia. Aku belajar bagaimana berumah tangga melalui dia. Komplit dan komplex. Romatis, komedi, action, tragis diramu jadi satu menghasilkan Elixir, Good Potion. Ramuan ampuh yang menjadikanku wanita hebat saat ini. 
Experience is the best teacher, betapa aku menyadari hal ini.
Terima kasihku untuk masa-masa berharga kemarin. Tanpa itu, aku tak bisa setangguh sekarang.



Selamat Ulang Tahun Nong...

Senin, 13 Juni 2011

Hidup : Bagian Tubuh Mana Yang Lebih Penting


Dari Millis tetangga……
Ibuku selalu bertanya padaku apa bagian tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. 
Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu.”
Jawabnya, “Bukan.  Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakanmu lagi nanti.”
 Beberapa tahun kemudian sebelum dia bertanya padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Jadi, kali ini aku memberitahukannya, “Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita.” 
Dia memandangku dan berkata, “Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta.” 
Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, “Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, anakku.” 
Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek. 
Dia bertanya padaku, “Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?” 
Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku. 
Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, “Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar “hidup”. Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus belajar pelajaran yang sangat penting.” 
Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air mata. Dia berkata, “Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu.” 
Aku bertanya, “Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?” 
Ibu membalas, “Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangin ketika mereka menangis. Kadang-kandang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya. ” 
Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialami oleh orang lain. 
Orang akan melupakan apa yang kamu katakan… Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan… Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti….



Sabtu, 11 Juni 2011

Fisika Biologis



Hanya suara kipas tua sedang berputar di sudut loteng kamar reot peninggalan babe.  Hmm darimana bisa kudapatkan uang sebanyak itu..? 
Berpikir lagi dan berpikir keras.
Ah ku jual saja kipas angin itu toh bisa membantu nol koma tujuh persen.
Lumayan...

Dari loteng kamar kusam ini, secepatnya kularikan pandangan pada lemari kaca lapuk yang bertengger manis di pojok. Nampak tidak terlalu buruk untuk berpindah tangan.
Mulai mengkalkulasi dan dapat. Setidaknya sepertigadua bagian sudah lolos.

Masih kurang banyak, ayo cari lagi.
Apa? Dimana? Bisa? Bisa.
Aha, sepasang meja kursi jati itu, jangan harap bisa kabur dariku. Baiklah, Baba Ali pasti siap menggenapi jadi seperempat dari total uang yang diharapkan.
Sedikit lega mulai merayapi hati kemudian diikuti senyum asam manis. Makin mudah saja urusan ini.

Isi kamar ini masih tersisa lampu pijar 5 watt, dua potong baju anggun untuk kondangan, beberapa buku pelajaran SMP kelas awal sampai akhir, radio butut yang entah sudah berapa generasi. Tak lupa sepasang sepatu brand converse bandrolan pasar maling.
Coba-coba hitung... payah, bahkan setengah pun tak dapat.

Pusing pusing pusing!
Pasti ada cara lain karena cara itu tidak akan berhasil. Sudahlah besok saja pikiran ini disambung, sembari bangkit hendak merapikan ceceran buku di meja jati lapuk tadi.

Dan... triing! Benar saja. Kenapa tadi tidak terpikir?
Fisik. Tentu saja aku masih punya fisik.
Bagaimana kalau ku jual saja perawan ini? 
Seperti si Desi atau Rasti. Uang mereka sudah banyak sekarang, akupun bisa seperti itu. Lagipula mendengar cerita mereka kemarin, rasanya tidak begitu sulit melakukannya.
Ah aku tahu jawabanya sekarang. Biar kutemui mereka di sekolah besok.

Buku fisika... Tak bisa dipercaya kau menjadi solusi kali ini, makasih untuk idenya.


Dengan senyum lotre aku kembali ke balik selimut hangatku. 
Dari sela radio lokal mengalun tembang usang  Mother How Are You Today.
Mengantarku ke mimpi terbaik malam ini...

"...mother how are you today? Here is a note from your daughter..."


Lecon
Waingapu_12.06.11

Senin, 06 Juni 2011

Kekuatan Hati dan Pikiran

 
Di sebuah perusahaan rel kereta api ada seorang pegawai, namanya Nick. Dia sangat rajin bekerja, dan sangat bertanggung jawab, tetapi dia mempunyai satu kekurangan, yaitu dia tidak mempunyai harapan apapun terhadap hidupnya, dia melihat dunia ini dengan pandangan tanpa harapan sama sekali.
Pada suatu hari semua karyawan bergegas untuk merayakan ulang tahun bos mereka, semuanya pulang lebih awal dengan cepat sekali. Yang tidak sengaja terjadi adalah, Nick terkunci di sebuah mobil pengangkut es yang belum sempat dibetulkan. Nick berteriak, memukul pintu dengan keras, semua orang di kantor sudah pergi merayakan ulang tahun bosnya maka tidak ada yang mendengarnya.
Tangannya sudah merah kebengkak-bengkakan memukul pintu mobil itu, suaranya sudah serak akibat berteriak terus, tetapi tetap tidak ada orang yang mempedulikannya, akhirnya dia duduk di dalam sambil menghelakan nafas yang panjang. Semakin dia berpikir semakin dia merasa takut, dalam hatinya dia berpikir: Dalam mobil pengangkut es suhunya pasti di bawah 0 derajat, kalau dia tidak segera keluar dari situ, pasti akan mati kedinginan. Dia terpaksa dengan tangan yang gemetar, mencari secarik kertas dan sebuah bolpen, menuliskan surat wasiatnya.

Keesokkan harinya, semua karyawan pun datang bekerja. Mereka membuka pintu mobil pengangkut es tersebut, dan sangat terkejut menemukan Nick yang terbaring di dalam. Mereka segera mengantarkan Nick untuk ditolong, tetapi dia sudah tidak bernyawa lagi.
Tetapi yang paling mereka kagetkan adalah, listrik mobil untuk menghidupkan mesin itu tidak dihubungkan, dalam mobil yang besar itu juga ada cukup oksigen untuknya, yang paling mereka herankan adalah suhu dalam mobil itu hanya 28 derajat saja, tetapi Nick malah mati “kedinginan”!!
Nick bukanlah mati karena suhu dalam mobil terlalu rendah, dia mati dalam titik es di dalam hatinya. Dia sudah menghakimi dirinya sebuah hukuman mati, bagaimana dapat hidup terus?
Percaya dalam diri sendiri adalah sebuah perasaan hati. Orang yang mempunyai rasa percaya diri tidak akan langsung putus asa begitu saja, dia tidak akan langsung berubah sedih terhadap keadaan hidupnya yang jalan kurang lancar.
Tanyalah pada diri kita sendiri, apakah kita sendiri sering langsung memutuskan bahwa kita tidak mampu untuk mengerjakan suatu hal, sehingga kita kehilangan banyak kesempatan untuk menjadi sukses? Kehilangan banyak kesempatan untuk belajar mandiri? Untuk jadi lebih mengerti kehidupan ini?
Yang mempengaruhi semangat kamu bukanlah faktor-faktor dari luar, melainkan hatimu sendiri. Sebelum berusaha sudah dikalahkan oleh diri kita sendiri, biarpun ada banyak bantuan yang tertuju pada dirimu tetap tidak akan membantu.

Source : unknown

Sabtu, 04 Juni 2011

Memaksa Menjawab Misteri


Akhir-akhir ini saya sedikit berpikir mengapa orang-orang sering sekali mempertanyakan ke-Tuhan-an mereka. Apa tidak cukup dengan hanya percaya saja? Perlu  pertanggungjawaban citra dan karya yang di-Tuhan-kan secara ilmu pengetahuan? Atau tentang bagaimana bumi diciptakan dari "sesuatu yang tidak ada" lalu menjadi ada dan nampak?

Bagi saya tidak masalah seseorang gusar mempertanyakan apa yang diimaninya. Justru langkah maju baginya sendiri dan sungguh manusiawinya menuntut itu.


Baiklah, saya coba mengorat-oret pola pikir yang saya dapat dari berbagai sumber.

Secara ilmiah tidak mungkin bahwa yang "tidak ada" merupakan asal mula sesuatu yang ada. Singkatnya, mau tidak mau harus diakui keterbatasan ratio, dan secara logis ratio harus tunduk pada misteri. Apa yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah justru memberi tempat bagi jawaban iman.

Misteri memang tidak dapat dijelaskan secara ilmu pengetahuan, jika dari "tidak ada apa-apa" secara tiba-tiba muncul sesuatu - maka tentu ada sesuatu kekuatan yang mengadakan atau yang mampu mengubah dari tidak ada menjadi ada. 
Kekuatan itulah yang oleh iman (saya, kristen) disebut Allah Pencipta (teori creatio ex nihilo - penciptaan dari ketiadaan-bumi).

Dengan ini secara tegas saya menolak rasionalisme simplistik yang mengatakan bahwa rasionalitas adalah realitas terakhir sehingga apapun yang ada diluar rasionalitas seperti halnya misteri, dianggap irasional dan tidak ada. Rasionalisme simplistik inilah yang merupakan sumber atheisme.

Manusia kadang terlalu angkuh dengan pengetahuannya sehingga mengesampingkan spiritualitasnya sendiri. Ada baiknya menjawab pertanyaan dasar dalam diri berkenaan dengan kepercayaannya namun sering keliru menterjemahkan apa yang dimaksudkan dengan misteri, yang tak terjawab dengan ratio.

Atheisme merupakan suatu superfisial karena berusaha memaksakan rasio sebagai satu-satunya realitas terakhir sehingga menegasi ketiadaan mistei, padahal ALLAH adalah misteri yang tak terselami akal budi manusia yang landai.  

Jumat, 03 Juni 2011

Tentang Sebuah Pena Dan Secarik Kertas



Saya merindukan sebuah pena dan secarik kertas
Ketika benak saya ingin bersenggama sesaat
Tentang riuhnya suara bumi berteriak minta tolong
Tentang asa yang hampir putus di perempatan kaki liang
Tentang gurauan pak tua kepada harmonika titipan eyangnya
Atau tentang lambaian anggun manis Putri Indonesia 
Tak terbantahkan bagi mata nelangsa kesepian
Entah enggan entah suka

Saya menginginkan sebuah pena dan secarik kertas
Ketika buaian imaji penuh hasrat mendesak melambung
Tentang senja menyapa alam yang menurut begitu saja
Tentang rajutan partikel mendorong kumbang  mencari bunga
Atau tentang pasir yang tak mampu berjarak dengan asin laut
karena setiap butirnya mampu diselimuti si cair maut

Jadi apa saya tanpa sebuah pena dan secarik kertas
Jika kebakaran dalam saluran bisu di kepala 
Sudah tak teredam dengan mulut juga doa
Petualangan batin lunglai ini 
Hanya tertuang persis pada secarik kertas oleh sebuah pena
Goresan demi goresan 
Lalu menjadi makna berurai

Saya hanya butuh sebuah pena dan secarik kertas
Usang pun tak mengapa
Asalkan dapat ditorehkan cerita yang tak pernah usang
Bukan berkompetisi
Hanya ingin diwadahi


Dan seketika menjadi sederhana
Saat ada sebuah pena 
Dan secarik kertas


Lecon
03.06.11









Minggu, 29 Mei 2011

Tanah dan Air, Tanah Air?


Judul diatas merupakan salah satu artikel DR. Mudji Sutrisno. Membaca tulisan beliau membuat miris hati saya dengan pergeseran nilai hidup bersosial yang dibungkus dengan kata PERADABAN dan MODERNISASI. 


Beliau memaparkan, sekitar tahun 1950-1960an, di daerah Jawa tepatnya disudut-sudut jalan kampung atau bahkan didepan rumah-rumah penduduk, tersedia kendi-kendi berisi air minum segar yang diperuntukkan bagi orang-orang yang kebetulan lewat dan sedang merasa kehausan. Tersedia juga sumur timba untuk membasuh keringat atau kaki dan tangan pejalan yang merasa kelelahan.

Disini, air dinilai sebagai kepemilikan bersama, dibagi secara bersama dan dinikmati bersama-sama. Bak layaknya kota Roma dalam masa peradaban apex mundi (pusat kota) yang mengelola air segar mereka melalui Fontana yaitu pancuran-pancuran air minum yang dihias indah dan sengaja ditaruh di piazza-piazza juga sudut jalan protokol atau taman-taman kota. 


Fontana ini memiliki fungsi yang sama yakni ketika orang membutuhkan air bisa langsung meminumnya. Air-air fontana ini disebut juga Aqua Virgine (air asli perawan) yang kemudian menjadi inspirasi Bernini membuat pahatan fontana di Navoda sebagai salah satu masterpiece pahatan airnya.

Kembali fokus ke peradaban di Indonesia. Peradaban sekarang merupakan peradaban “having” atau kepemilikan. Terjadi pergeseran nilai dari yang awalnya bersama (tanah air kita) menjadi nilai kepemilikan dengan cover ekonomis atau komersil. 


Contoh nyata seperti kemasan plastik air minum. Betapa daya dorong komersil yang kuat kemudian air yang menjadi milik bersama disulap oleh kekomersilan, menjadi brand perdagangan bagi yang mampu. Lihat pula penghilangan kendi-kendi milik umum berganti menjadi penjualan air botolan dengan berbagai merek. Pemanfaatan syarat basic survival - kebutuhan dasar bertahan hidup untuk dijadikan barang konsumsi.
Jika keadaannya seperti ini, lalu muncul pertanyaan, siapakah pemilik tanah dan air ini? Apakah diperuntukkan bagi mereka yang mampu?
Tanah yang dahulu seperti air, milik bersama, kini dalam peradaban having menjadi milik individual yang semakin dikumpulkan dan dijadikan sumber kekayaan pribadi. Akibatnya, hidup bersama yang ditopang atas dasar milik bersama kini dikuasai oleh yang empunya. Lalu masih relevankah menyanyikan tanah airku?

Muncul persoalan transisi peradaban antara “tanah air milik bersama” (secara hukum milik negara) menuju tanah air yang dikuasai hukum ekonomi, komersialisasi ekonomi.

Tanah airku,
Tanah tumpah darahku
Tanah yang subur dan kaya
Tanah yang menguntungkan bagi yang mampu
Oh Indonesiaku...


Kamus Pariwisata

Guys..... yang satu ini perlu juga untuk diketahui bersama.
Ada beberapa istilah dari kata "wisata" yang kadang membuat bingung. Misalnya kata pariwisata dan kepariwisataan. Hmmm terkesan sama kan?
Tetap saja beda kalau sudah ada penambahan huruf (orang bego juga tau xixiii)

OK kalau begitu langsung saja.
  • Wisata merupakan kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang telah dikunjungi dalam jangka waktu sederhana.
  • Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.
  • Pariwisata yaitu berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
  • Kepariwisataan adalah berbagai macam kegiatan yang terkait dengan pariwisata. Bersifat multidimensi dan multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara. Kepariwisataan termasuk juga didalamnya adalah interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
  • Daya Tarik Wisata yakni segala seuatu yang memiliki keunikan, keindahan dan nilai, yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia, yang kemudian menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.
  • Daerah Tujuan Pariwisata atau disebut juga Destinasi Wisata merupakan kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif. Didalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum dan fasilitas pariwisata, aksebilitas, serta masyarakat yang saling terkait melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
  • Usaha Pariwisata adalah segara usaha penyediaan barang dan atau jasa bagi penentuan kebutuhan wisatawan serta penyelenggaraan pariwisata.
  • Pengusaha Pariwisata adalah orang atau kelompok yang melakukan kegiatan / usaha pariwisata.

Kamis, 26 Mei 2011

Tidak Ingin Belajar Lagi

Sudah hampir sebulan ini saya dalam perang dingin dengan wanita yang saya panggil mama.

Berada dalam situasi seperti ini sangat tidak menyenangkan apalagi saya yang masih tinggal serumah dengan orang tua. Ganjil dan tidak terbiasa. Lebih banyak menghabiskan waktu dalam kamar (tidak terlalu membosankan juga karena semua yang saya butuhkan tersedia disitu). Saya cuma keluar saat ingin makan atau ke toilet.

Berpapasan? Masing-masing berlagak seolah tak melihat satu sama lain.

Kejadian itu berawal dari beberapa minggu lalu saat ada resepsi pernikahan salah satu sepupu. Hanya karena tidak turut membantu persiapan pernikahan, saya pun di ceramah habis-habisan. Tapi tidak sesederhana itu teman. Dari kata-kata yang keluar dari mulutnya, ada bahasa yang sangat menyakitkan - bahasa yang keluar dari relung hatinya saya kira. Apa yang dipendamnya selama ini akhirnya bisa saya tahu melalui momen itu. Seperti seorang mabuk yang terkadang jujur perkataannya saat sedang benar-benar mabuk.

Mengetahui itu amat menyakitkan. Seolah dihempaskan ke titik dasar untuk mengerti sebuah arti penolakan. Katakan ini cuma persepsi saya, tapi tidak ada alternatif lain dari bahasa itu yang mampu saya tangkap lagi. Bukan begini harusnya mama.

Muncul seribu, sejuta bahkan uncountable questions yang harus saya cari jawabannya. Apa yang bisa dimengerti dari anak usia 25 tahun terhadap maksud wanita 48 tahun? Kekecewaan, penyesalan, permusuhan dengan diri sendiri mulai menghidupi saya sampai saat ini. Saya habiskan berhari-hari hanya untuk menyelami ada apa dengan 5, 10, bahkan 25 tahun kemarin. Jika seorang ibu mengungkapkan betapa malunya ia dengan putrinya, apa yang harus saya lakukan?

"Jika boleh, sekali 'abrakadabra' ingin rasanya menghapus ingatan kami berdua tentang masa sulit kemarin. Tentang rasa syukur yang sudah saya panjatkan, tentang betapa bangganya punya ibu yang super hebat, tentang dia yang memainkan peran sebagai satu-satunya manusia yang mampu menerima saya dalam keterpurukan, atau tentang kepasrahan dan kasih sayangnya sewaktu menguatkan saya."


Harusnya dilupakan saja agar saya tidak perlu lagi percaya, ada ibu  disitu untuk menopang saya. 
Dan tidak harus se-extrim ini permainan sakit hati. Namun semua bergulir tanpa bisa saya kontrol lagi walau segala akal, akhlak, nurani sudah saya maksimalkan tetap saja tidak menjawab semua penolakan dari seorang ibu.
Maaf mama.  Untuk debu di wajah kalian. 
Awalnya saya percaya, kesalahan dan kekeliruan kemarin adalah proses belajar. Namun tidak untuk kali ini. 

Saya mulai meyakini bahwa itu semua hanya menjadi suatu bumerang bahkan untuk ibu kandung sendiri.
Kemana saya akan pergi tanpa pengakuan?


Rabu, 25 Mei 2011

SEPEDA - Maknai Hidup Tiap Harinya

Albert Einstein bilang, "Hidup seperti naik sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak".
Hidup ini harus dilakoni layaknya mengayuh sepeda tadi. Harus seimbang. Bagaimana caranya? Ya, ambil keputusan yg menyangkut diri dan publik dengan bijak, melalui pemikiran dan dan analisa yang matang.


Coba kita maknai hari demi hari dengan sebaik-baiknya.


Hari SENIN, semangat baru nan indah.


Hari SELASA harus dimaknai sebagai hari yang selalu luar biasa, dan hari RABU adalah singkatan dari 'Rasa bahagia dalam kalbu'.


Hari KAMIS adalah 'Hari Sukses', hari evaluasi apa yang sudah kita lakoni selama tiga hari sebelumnya dan apa yang harus kita perbuat untuk tiga hari kedepan.


Di hari JUMAT bisa berarti 'Juga amat hebat', bisa juga dicatat sebagai hari yang kurang produktif karena segera memasuki hari sabtu, hari libur.


Hari SABTU bisa dijadikan ajang evaluasi apa yang telah dikerjakan selama lima hari kemarin? Sabtu berarti 'Saatnya Bersatu!'. Bisa menjadi hari yang produktif atau tidak tergantung dari diri sendiri. Sepasang anak manusia yang sedang memadu kasih akan menggunakan hari ini sebagai hari kemesraan.


Sedangkan hari MINGGU atau 'Mari kita ingat berkah seminggu' digunakan sebagai hari bersyukur.
Inilah siklus hidup manusia dalam sepekan.


Mari kita mengevaluasi dan memaknai hidup kita setiap harinya dengan penuh syukur.
Apakah saya dan Anda sudah melakoni perjalanan hidup ini dengan dan seperti sepeda?....