Tampilkan postingan dengan label Chit Chat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chit Chat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Oktober 2011

3 Pertanyaan Seorang Atheis


Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri Sam kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, siapapun yang boleh menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.


“Anda siapa? Dan apakah boleh anda menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?” Pemuda bertanya. “Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan saudara.” Jawab Guru Agama. 
“Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.” 
Jawab Guru Agama “Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya”


Pemuda : “Saya punya 3 pertanyaan;


1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan kewujudan Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dimaksudkan dengan takdir?
3. Kalau setan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api?, tentu tidak menyakitkan buat syaitan, sebab mereka memiliki unsur yang sama.


Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”


Tiba-tiba Guru Agama tersebut menampar pipi si Pemuda dengan kuat. Sambil menahan kesakitan pemuda berkata “Kenapa anda marah kepada saya?” Jawab Guru Agama “Saya tidak marah… Tamparan itu adalah jawapan saya kepada 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya”.


“Saya sungguh-sungguh tidak faham”, kata pemuda itu. 
Guru Agama bertanya “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. 
“Tentu saja saya merasakan sakit”, jawabnya. 
Guru Agama bertanya ” Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?”. 
Pemuda itu mengangguk tanda percaya. 
Guru Agama bertanya lagi, “Tunjukan pada saya wujud sakit itu!” 
“Tak bisa,” jawap pemuda. 
“Itulah jawapan pertanyaan pertama: kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.” terang Guru Agama.


Guru Agama bertanya lagi, “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”. “Tidak” jawab pemuda. 
“Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?” “Tidak” jawab pemuda. 
“Itulah yang dinamakan Takdir” terang Guru Agama.


Guru Agama bertanya lagi, “Diperbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”. 
“Kulit,” Jawab pemuda. 
“Pipi anda diperbuat dari apa?” 
“Kulit" Jawab pemuda. 
“Bagaimana rasanya tamparan saya?” 
“Sakit.” Jawab pemuda. 
“Walaupun Setan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk
setan.” Terang Guru Agama.





Referensi :
http://archive.kaskus.us/thread/4347408

Sabtu, 17 September 2011

“Tuhan belum selesai dengan saya”


Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil, yang telah mempunyai 8 anak, tiga diantaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankan untuk menggugurkan kandungannya?
Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh satu komponis masyhur dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.
dan…..
Sekarang adalah waktunya untuk memilih seorang pemimpin dunia dan keputusan anda berpengaruh besar terhadap siapa yang akan menjadi pemenang. Berikut adalah fakta mengenai ketiga calon tersebut:
Calon A: dihubung-hubungkan dengan politisi jahat dan sering berkonsultasi dengan astrologis, punya dua istri muda, dia juga seorang perokok berat dan minum 8-10 botol martini setiap harinya.
Calon B: dipecat dua kali dari kantor, selalu bangun sore hari, pernah menggunakan narkoba waktu kuliah dan minum wiski tiap sore.
Calon C: dianggap pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, hanya sesekali minum bir, tidak pernah berselingkuh di luar perkawinannya.
Siapa di antara ketiga calon ini yang akan anda pilih? Anda mungkin tidak akan menduga siapa sebenarnya calon-calon ini.
Calon A adalah Franklin D. Roosevelt
Calon B adalah Winston Churchill
Calon C adalah Adolf Hitler
Sekali lagi sejarah mengajarkan untuk tidak menilai orang dari penampilan.
Refleksi :
Kita tidak selalu tahu apa yang sedang dan masih mungkin terjadi di dalam hati seseorang. Di sanalah (di dalam hati), perjalanan yang sesungguhnya sedang terjadi. Selama kita belum bisa melihat ke dalam hati seseorang dan belum bisa mengikuti proses-proses yang masih berlangsung di dalamnya (dan memang tidak akan pernah bisa), maka sebenarnya selama itulah kita tidak mempunyai hak apapun untuk menghakimi sesama kita.
Mungkin baik bagi kita membiasakan diri untuk melihat secara imajiner, bahwa di dada setiap orang terpampang sebuah kalimat “Tuhan belum selesai dengan saya”



Senin, 15 Agustus 2011

Jerit Si Renta...

Tujuh belas pria
Delapan wanita 
Empat puluh lima anak-anak
Itu Indonesia

Merah meriah 
Putih lagak kita
Bersiap menyongsong viktori
Gemilang, gemuruh, 
Gejolak semusim seperti agenda tahunan

Namun disudut lapangan
Kakek nenek renta murung menatap tiang
Dipuncaknya ada kain
Apa itu masih merah putih yang dulu?

Batin mereka...
Rumusan itu kami yang buat
Kalian tinggal melanjutkan saja

Sistem itu juga, kami yang susun
Kalian hanya sisa mebenahi 

Nasionalisme itu,kami yang tanam
Semoga kalian masih ingat soal itu

Lalu integrasi?
Jangan lupa, kami wafat untuk itu
Dengan raungan 
Dan bukan rengekan

Singkat saja, kami beri kalian warisan
Tanpa manipulasi, egoistis atau kekuatan liar
Berharap kalian punya identitas identik pancasila,
Bukan membebek saja pada sabda teknokrat

Itu wajah kami,
Bagaimana wajah kalian sekarang?

Kami lihat kalian resah bila tak bermodal
Orientasi beralih menuju penumpukan kekuasaan
Semakin keadilan dicanangkan jadi asas pembangunan
Semakin pula keadilan jadi ideal tak kesampaian
Menghukum yang kecil 
Membesarkan yang besar
Hukum dikomoditikan dengan nilai tukar
Lalu jadi jadi momok tua di era sejuta harapan

Ampun Gusti, kami yang salah
Lupa mewariskan akal budi jua
Sehingga hanya kami yang mampu melihat
Merah putih yang kalian samarkan
Sekarang jadi hitam.


Lecon Alfa Privatinum_13'08'11



Senin, 08 Agustus 2011

Imperialisme dan Kapitalisme


Senin, 6 Juni 2011 | 14:00 WIB 
Pidato Indonesia Menggugat 
Oleh : Ir. Soekarno
Artinya



Tuan-tuan Hakim yang terhormat!
Di dalam aksi kami sering-sering kedengaran kata-kata “kapitalisme” dan “imperialisme”. Di dalam proses ini, dua perkataana inipun menjadi penyelidikan. Kami antara lain dituduh memaksudkan bangsa Belanda dan bangsa asing lain, kalau umpamanya kami berkata “kapitaisme harus dilenyapkan”. Kami dituduh membahayakan pemerintah kalau kami berseru “rubuhkanlah imperialisme”. Ya, kami dituduhkan berkata bahwa kpitalisme = bangsa Belanda serta bangsa asing lain, dan bahwa imperialisme = pemerintah yang sekarang!

Adakah bisa jadi benar tuduhan ini? Tuduhan ini tidak bisa jadi benar. Kami tidak pernah mengatakan, bahwa kapitalisme = bangsa asing, tidak pernah mengatakan bahwa imperialisme = pemerintah. kami pun tidak pernah memaksudkan bangsa asing kalau berkata; kapitalisme, tidak pernah memaksudkan pemerintah atau ketertiban umum atau apa saja kalau kami berkata imperialisme. Kami memaksudkan kapitalisme kalau kami berkata kapitalisme; kami memaksudkan imperialisme kalau kami berkata imperialisme!

Maka apakah artinya kapitalisme? Tuan-tuan Hakim, di dalam pemeriksaan sudah kami katakan, Kapitalisme adalah sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi. Kapitalisme timbul dari ini cara produksi, yang oleh karenanya, menjadi sebabnya nilai-lebih[1] tidak jatuh di dalam tangan kaum buruh melainkan jatuh di dalam tangan kaum majikan. Kapitalisme, oleh karenanya pula, menyebabkan akumulasi kapital , konsentrasi kapital , sentralisasi kapital , dan industrielle reserve-armée[2] . Kapitalisme mempunyai arah kepada Verelendung[3] (baca: pemelaratan).

Imperialisme bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialisme juga hanya nafsu atau sistem mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain! (Bung Karno)
Haruskah kami di dalam pidato ini masih lebih lebar lagi menguraikan, bahwa kapitalisme itu bukan suatu badan, bukan manusia, bukan suatu bangsa,–tetapi ialah suatu faham, suatu pengertian, suatu sistem? Haruskah kami menunjukkan lebih lanjut, bahwa kapitalisme itu ialah sistem cara produksi, sebagai yang kami telah terangkan dengan singkat itu? Ah, Tuan-tuan Hakim, kami rasa tidak. Sebab tidak ada satu intelektuil yang tidak mengetahui artinya kata itu. Tidak ada satu hal di dunia ini, yang sudah begitu banyak diselidiki dari kanan-kiri, luar dalam, sebagai kapitalisme itu. Tidak ada satu hal di dunia ini, yang begitu luas perpustakaannya, sebagai kapitalisme itu, –hingga berpuluh-uluh jilid, berpuluh-puluh ribu studi dan buku-buku standar dan brosur-brosur tentang itu.

Tetapi apa arti perkataan imperialisme? Imperialisme juga suatu faham, imperialisme juga suatu pengertian. Ia bukan sebagai yang dituduhkan kepada kami itu. Ia bukan ambtenaar binnelandsch bestuur[4], bukan pemerintah, bukan gezag[5], bukan badan apapun jua. Ia adalah suatu nafsu, suatu sistem menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri,–suatu sistem merajai atau mengendalikan ekonomi atau negeri bangsa lain. Ini adalah suatu “kejadian” di dalam pergaulan hidup, yang timbulnya ialah oleh keharusan-keharusan di dalam ekonomi sesuatu negeri atau sesuatu bangsa. Selama ada “ekonomi bangsa”, selama ada “ekonomi negeri”, selama itu dunia melihat imperialisme. Ia kita dapatkan dalam nafsu burung Garuda Rum terbang ke mana-mana, menaklukkan negeri-negeri sekeliling dan di luar Lautan Tengah. Ia kita dapatkan di dalam nafsu bangsa Spanyol menuduki negeri Belanda untuk bisa mengalahkan Inggris, ia kita dapatkan di dalam nafsu kerajaan Timur Sriwijaya menaklukkan negeri semenanjung Malaka, menaklukkan kerajaan Melayu, mempengaruhi rumah tangga negeri Kamboja atau Campa. Ia kita dapatkan di dalam nafsu negeri Majapahit menaklukkan dan mempengaruhi semua kepulauan Indonesia, dari Bali sampai Kalimantan, dari Sumatera sampai Maluku. Ia kita dapatkan di dalam nafsu kerajaan Jepang menduduki semenanjung Korea, mempengaruhi negeri Mancuria, menguasai pulau-pulau di Lautan Teduh. Imperialisme terdapat di semua zaman “perekonomian bangsa”, terdapat pada semua bangsa yang ekonominya sudah butuh pada imperialisme itu. Bukan pada bangsa kulit putih saja ada imperialisme; tapi juga pada bangsa kulit kuning, juga pada bangsa kulit hitam, juga pada bangsa kulit merah sawo sebagai kami,–sebagai terbukti di zaman Sriwijaya dan zaman Majapahit; imperialisme adalah suatu “economische gedetermineerde noodwendigheid”, suatu keharusan yang ditentukan oleh rendah tingginya ekonomi sesuatu pergaulan hidup, yang tak memandang bulu.

Dan sebagai yang tadi kami katakan, –imperialisme bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialisme juga hanya nafsu atau sistem mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain! Ia tak usah dijalankan dengan pedang atau bedil atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa “pengluasan negeri-daerah dengan kekerasan senjata” sebagai yang diartikan oleh van Kol[6] (Seorang anggota parlemen Belanda) –tetapi ia bisa juga berjalan hanya dengan “putar lidah” atau cara “halus-halusan” saja, bisa juga berjalan dengan cara “pénétration pacifique”.

Terutama dalam sifatnya mempengaruhi rumah tangga bangsa lain, imperialisme zaman sekarang sama berbuahkan “negeri-negeri mandat” alias “mandaatgebieden”, daerah-daerah pengaruh” alias “invloedssferen” dan lain-lain sebagainya, sedang di dalam sifatnya menaklukkan negeri orang lain, imperialisme itu berbuah negeri jajahan, –koloniaal-bezit.


*) Diambil dari Risalah “Indonesia Menggugat” yaitu Pidato Pembelaan Bung Karno di depan pengadilan kolonial (landraad) di Bandung, 1930.



[1] Nilai lebih (merrwarde): kelebihan hasil yang diterima majikan, dari produksi kaum buruh.
[2] industrielle reserve-armée: barisan penganggur


[3] Verelendung: Memelaratkan kaum buruh.

[4] ambtenaar BB (binnelandsch bestuur): pegawai pamong praja kolonial belanda


[5] Gezag: kekuasaan.


[6] Van Kol Henri Hubert (1852-1925) , seorang sosialis yang turut mendirikan Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) dan pernah menjadi Menteri Jajahan. Kata-kata ini diucapkan Van Kol dalam sidang Tweede Kamer, 22 November 1901.

Kamis, 04 Agustus 2011

“Jangan bilang gue perawan!”

 Mitos kalayak kebanyakan ‘menuduh’ perempuan berumur yang belum menikah pasti sensitif dan galak. Buktinya, kalau ada bos perempuan di kantor cerewet dan jutek, ditanya, ‘dia sudah menikah atau belum?’,  jika jawabannya ‘belum’ ditanya lagi, ‘umurnya berapa,’ dijawab ’30an’, akhirannya pasti, ‘Oh, pantesan … perawan tua.”


Beberapa teman suka menghindar ke pesta kawinan dengan alasan belum ada pasangan. Basi namun kenyataan hampir selalu demikian. Si Dina sampai bela-belain bikin meeting after office hour untuk menghindar pesta pernikahan kerabat dengan alasan yang sama. Suka sebel ditanya ‘mana pasangannya dan kamu kapan giliran nikahnya?’, cukup membuat Dina bete sama para tante yang suka berbasa-basi tak berperasaan itu. Dina curhat, “kenapa ya, pertanyaan tersebut selalu diulang layaknya lingkaran setan, tak berhenti sampai ‘sudah punya cowok belum?’, kalau sudah diteruskan ‘kapan menyusul?’, sudah married, “kok belum punya momongan?’, dapat satu, ‘ngga nambah nih?’. Untung tidak diteruskan lagi, ‘ngga bosan sama dia terus?’, jika bercerai pertanyaan diulang dari awal.” Hadoh!

Kakak Dina yang sudah 5 tahun menikah namun belum beranak sudah kebal dicecar pertanyaan lanjutan tadi. Sampai ada penorma berkata bahwa anak itu adalah pelepas lelah dikala capek, anak membuat tawa dikala sedih, anak adalah bla-bla-bla…, kalau tua nanti siapa yang menjaga kita kalau bukan anak sendiri. Heh? Dina tambah panas, “kalau capek yah istirahat, memangnya anak badut? Kalau mau ketawa nonton komedi saja, bla-bla-bla…, kasian banget anaknya, dijadikan ‘jamsostek’!, mending gue masuk rumah jompo, deh!”. Saya menghibur Dina dengan sebuah joke: ‘Old people always poke me at the wedding and say ‘you are next’, si, I started to do the same thing to them at the funerals. Dina bilang, ngga tega.

Saya salut sama ‘si-Parasit Lajang’, Ayu Utami yang memilih untuk tidak menikah dan sangat setuju dengan pemikirannya; bahwa pernikahan seakan menjadi satu-satunya pilihan. Tanpa menikah pun seseorang bisa bahagia, lebih bahagia mungkin daripada mendapat tekanan dalam perkawinan itu sendiri. Buktinya, banyak teman-teman yang perkawinannya tidak bahagia dan berakhir dengan perceraian. Menikah untuk keturunan juga adalah tekanan. Bagi kakak Dina, usaha mempunyai anak sudah paling maksimal, suntik hormon sampai bayi tabung. Bagi saya, konsep punya anak hanya dua hal; enak dan gratis -kebalikannya, itu bukan konsep saya.

Menikah hanya untuk sex halal, sama sekali tak setuju. Banyak ‘pemerkosaan’ suami terhadap istri dalam sebuah perkawinan dan banyak pula selingkuh diluar pernikahan. Itu konsekuensi pernikahan?, mendingan tidak sama sekali. Bagi Dina lain lagi, saking bosannya dengan pertanyaan tersebut, dia berplakat, ‘Loe boleh bilang gue udah tua, tapi jangan pernah bilang gue masih perawan!’ KAK! 

Selasa, 02 Agustus 2011

Sekali Lagi...

Fiuuhh… akhirnya aku bisa mengatakannya juga, lebih tepatnya memberitahukan tanpa bersuara karena cuman lewat sms dari nokia 1100 bututku.


“Bahwa ada seseorang khusus diciptakan untukmu. Kita akan menemukan teman sejati kita, tapi untuk mencintai dan bersamanya adalah tetap pilihan kita untuk mewujudkannya. Bang maaf kita bubaran saja. Kita tak mungkin mewujudkan apa-apa, lebih baik begini saja”
Begitulah kira-kira bunyi sms yang kukirimkan pada Rynal, lelaki yang 15 menit lalu masih kupanggil “sayang, aku memikirkanmu…”

Tak lewat semenit hapeku kembali mengeluarkan suara kodok pertanda ada sms baru.
“kok jd tiba2 gni sih???” ini balasan yang kudapat.

Dengan sisa kekuatan logika yang masih berdiri sempoyongan aku coba membalasnya :
“Maaf bang sebenarnya mikirnya udah dari kmaren cm br bs ngomong saat ini. Skali lagi maaf ya, gk bs ngomong langsung ke abang.”

Dan begitulah kontak terakhir aku dan Bang Rynal. Tak ada balasan lagi darinya. Aku pun cukup tahu diri untuk menjaga pikiran positifku atas tindakan negative yang sudah aku lancarkan. Secara etika, harusnya bukan begini cara yang baik.

Aku dan Bang Rynal sadar sekali atas resiko hubungan yang kami jalin. Tak bertujuan, hanya ingin menikmati atas dasar suka sama suka pada awalnya. Ada kebahagiaan yang merayapi kami. Sesuatu yang fresh yang sudah lama tidak aku kecap. Sebelum kehadirannya sempat berfikir bahwa hatiku sudah mati. Tapi dia beda. Dia adalah nuansa sayang yang benar menyentuh perasaanku. Ah indah sekali saat kami bersama. Bawel vs Ndut hehe begitulah panggilan kami berdua.

Usia kami berdua terpaut 9 tahun berbeda, ditambah dengan perbedaan budaya dan keyakinan yang tentunya semakin sulit menyatukan kami. Meski begitu, kami tetap saling mendukung dalam aktivitas baik kerja maupun religi.

Menurutku tak penting memikirkan perbedaan itu asalkan tetap satu hati dan saling mensupport maka kami akan terus bahagia. Tapi di titik tertentu aku terpaksa harus menepis anggapan itu. Usia yang semakin bertambah otomatis mengarahkanku pada pilihan dan keputusan. Ya.. kami tak bisa mewujudkan apa-apa dari jalinan ini jadi sebaiknya kuakhiri saja.

Kembali teringat suara seorang teman di telingaku, 
“…Lel ada paradigma berpikir yang sedikit keliru tentang perbedaan. Sering kita mengatasnamakan agama dan lainnya sebagai hambatan. Bukan itu poinnya, Dari awal kau menjalani hubungan itu bukan tidak tahu kalau kalian memang berbeda. Dan akhirnya kalian tetap membukukannya. Setelah itu baru muncul uneg-uneg seperti ini. Saat kita bicara perbedaan dan hubungan asmara, mari bicara dari perspektif yang terbuka.”

Katakanlah aku naïf, pesimis bahkan pecundang. Jangan pula tanyakan perasaanku saat sekarang. Tipis sekali aku memandang iklas dan terpaksa. Saat ini logikaku yang diunggulkan, walau tak sanggup menutupi perihnya rasa ini tapi aku bisa apa. Menyesal tidak kupedulikan lagi. Asalkan jangan lebih sakit nanti, karena belum tentu aku kuat.


Seperti yang kau bilang Bang, “Disaat kau memilih untuk bersama dengan seseorang, tidak peduli dengan hal lainnya, itu adalah pilihan. Kita mungkin akan menemukan teman sejati kita dengan kesempatan yang ada, tetapi untuk mencintai dan bersama dengan teman sejiwa kita, itu adalah tetap pilihan kita untuk mewujudkannya.”

Saat kita bersama itu adalah pilihan. Tapi kita berdua tahu, bahwa kita sama-sama tak mampu membuat pilihan untuk mewujudkannya…


Lecon_02.08.2011
Kamar Mayat






Selasa, 19 Juli 2011

Menyontek Banyak Manfaatnya Lho...

Mungkin diantara sobat ada yang kurang percaya dan bertanya-tanya: "Benarkah nyontek sebuah kegiatan yang bermanfaat? Lalu apa sebenarnya manfaat dari nyontek tersebut?" Oke, inilah jawaban professor Gen atas pertanyaan tersebut.

"Kegiatan nyontek ini memang kalah populer di kalangan masyarakat sekarang ini. Terutama bila dibandingkan dengan kegiatan bermusik yang memiliki AMI (Anugerah Musik Indonesia) untuk memberikan penghargaan kepada insan musik yang berjasa. Tidak ada Aungerah Nyontek Indonesia, dan tidak ada orang yang meraih gelar sebagai 'Conteker of The Year' untuk mereka yang berprestasi dalam contek-menyontek. Tapi mari kita berfikir logis. Kalau ntontek tidak bermanfaat, mana mungkin generasi-generasi seblum kita melakukan hal tersebut?" Kata Prof. Gen saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu.

Professor Gen menambahkan, bahwa sedikitnya ada 6 manfaat yang bisa diambil dari kegiatan nyontek ini. Berikut penjelasannya:


7 Manfaat Nyontek Menurut Prof. Asal :



1.  Meningkatkan Kepercayaan diri dan Keberanian dalam mengambil resiko
Seperti yang sudah saya sebutkan di awal, bahwa nyontek juga memiliki resiko dan konsekuensi. Salah satunya, kalau sobat ketahuan nyontek tentunya akan dimarahi oleh Bapak atau Ibu Guru. Meskipun mereka juga waktu sekolah pernah melakukan hal serupa. Dan yang lebih parah, kertas ulangan bisa dicabut serta diberi nilai NOL.

Jadi, sudah bisa dipastikan bahwa orang-orang yang nyontek adalah mereka yang mau mengambil resiko. Kita juga tahu kalau hidup ini adalah pilihan yang penuh resiko. Belajar nyontek sama artinya dengan belajar mengambil resiko. Hidup nyontek..!!!!
 

2. Meningkatkan kreatifitas
Bagi saya, nyontek bukan sekedar kegiatan biasa, tapi sebuah seni yang didalamnya memerlukan kreatifitas. Dan orang-orang yang sering nyontek adalah orang dengan kreatifitas yang tinggi. 
 

Harap dicatat, bahwa kemungkinan besar para Guru adalah mantan conteker juga dulunya. Jadi, tentunya mereka sudah tahu bagaimana kebiasaan murid dalam mnyontek dan sudah punya penangkalnya. Krena itulah, diperlukan kreatifitas yang tinggi untuk terus mengembangkan jurus-jurus nyontek yang ampuh
 

3. Menyontek dapat meningkatkan kewaspadaan
Dalam kegiatan menyontek, kewaspadaan merupakan faktor yang sangat penting. Karena Sang Guru seperti elang dengan matanya yang tajam. Mengawasi dan siap menerkam siapa saja yang dicurigai atau ketahuan nyontek.

Supaya tidak terjadi hal memalukan pada sobat-sobat conteker (seperti dalam iklan: Pengen pintar, makanya belajar) kewaspadaan harus lebih ditingkatkan. Untuk hal yang satu ini akan saya berikan tipsnya lain waktu dalam "Cara Nyontek yang Baik dan Benar".

4. Melatih kecepatan dan gerak reflek
Sebuah penelitian yang dilakukan entah oleh siapa, mengungkap fakta yang cukup mengejutkan sekaligus menggembirakan bagi para contekers. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa 8 dari 10 conteker memiliki gerak reflek yang lebih baik dari mereka yang tidak pernah menyontek.

Jadi jelas, kalau sobat ingin meningkatkan kecepatan tangan dan gerak reflek, mulailah menyontek dari sekarang!

5. Melatih
 kerjasama antar contekers
Belakangan ini, seiring dengan makin ketatnya ruang yang diberikan para guru untuk para conteker, maka kegiatan nyontek tidak lagi dilakukan secara individual. Sekarang ini para contekers sudah bisa melakukan kerjasama untuk tercapainya tujuan mereka.

Bahkan sebelum melakukan kegiatan nyontek, terlebih dulu diadakan 'Briefing'. Menyusun strategi, membagi tugas, lalu berdoa bersama-sama.

6. Memiliki banyak waktu untuk bermain
Mereka yang tidak mencontek, harus belajar siang dan malam untuk menghadapi ulangan atau ujian. Tujuannya tentu saja mendapatkan nilai bagus. Hal ini berbeda dengan contekers. Mereka memiliki lebih banyak waktu untuk bermain-main.

Lalau bagaimana saat menghadapi ujian? Hanya dengan selembar kertas berisi coretan, mereka sudah bisa mendapatkan nilai yang bagus.

7. Mendapatkan nilai yang bagus
Nah, inilah tujuan utama sekaligus manfaat yang paling besar dalam kegiatan nyontek. Mendapatkan nilai yang bagus. Bahkan, contekers ini bisa mendapatkan nilai yang lebih baik dari mereka yang tiap hari belajar.

Nah, itulah beberapa
 manfaat nyontek yang diungkapkan oleh Professor Gen. Silahkan bagikan artikel ini ke conteker-conteker yang lain supaya menyontek isa lebih ditingkatkan lagi. Salam nyontek ^^







Source : Prof. Asal 

Sabtu, 18 Juni 2011

Ada kisah yang tak pernah usai...


Seperti kisahku bersama dia. Mungkin hanya kisah asmara biasa bagi segelintir orang, tapi sungguh bagiku ini bukan kisah biasa. Mengapa kupilih dia untuk menjadi kisahku? Karena harus kuakui dari dia, dari kisah kami, aku di titik minus plus. Bukan sekedar asmara, ada belajar, ada hidup, ada ekspresi, ada fatal, ada kekerasan, dan aku harus jujur, ada rumah tangga disitu.
Tiga tahun berlalu, aku masih tetap sama. Mengingat dan terus mengenang, bahkan memoriku bekerja sangat baik pada setiap detail 4,5 tahun yang kami jalani bersama. Tulisan ini kupersembahkan untuk dia yang genap berusia 29 tahun tepat hari ini.


Nong... sapaanku padanya. Tak sengaja bertemu di momen kebersamaan kelompok sewaktu kuliah. Masih dengan gaya lama, menitip - menerima - lalu membalas salam. Ada cerita lucu disini, saat itu aku bahkan belum tahu rupanya seperti apa. Diotakku terbayang seorang senior yang sempat melirikku pada malam puncak acara, dan untungnya kufikir dia orang yang sama yang menitip salam.



Kekeliruanku terkuak saat dia hendak berkunjung ke kosanku. Mandi bersih, rambut ditata klimaks, hampir setengah botol parfum kuhabiskan saking gugupnya. Lalu duduk manis dan menunggu jam 7 malam janjian kami.


"Maaf cari siapa?" aku bertanya ketika seseorang mengetuk lembut pintu kamarku. 
"Lely.." ucapnya pelan sedikit terkejut mendengar pertanyaanku. 
"Saya Lely, kakak siapa?" lanjutku kebingungan.
"Saya Riez" ungkapnya.
Gubrak! Singkat padat dan merah semulah wajahku mendengarnya. Rupanya aku salah kenal, ini sosok asli makluk yang kubalas salamnya. Langsung kupersilahkan masuk walau sedikit canggung karena ketahuan asal nyeplak salam.
Hehe itulah awal kisah kami. Lewat tiga kali pertemuan, tanpa basa basi dia langsung memintaku menjadi kekasihnya kala itu. Ember bersambut, kuiyakan saja tanpa banyak pikir. Toh simpatiku pun sudah tumbuh.
Persis empat bulan hubungan kami, kekerasan pertama dimulai. Pisau ditodongkan ke leherku saat kami bertengkar. Aku, yang sedari kecil akrab dengan kekerasan dari orang tua dan kakak-kakakku, menjadi ciut ketika harus pula dikasari oleh orang lain. Namun entah mengapa, atau saat itu ada ketergantungan sebagai perempuan kepada laki-lakinya, maka aku memilih tetap bertahan.

Tahun berlalu, kekerasan dilanjutkan ke tahun-tahun berikutnya. Kekerasan itu makin mudah ketika kami mulai tinggal bersama. Hubungan kali ini diketahui oleh keluarga walau ada beberapa hal yang kusembunyikan seperti hidup bersama tadi. Sampai puncaknya, aku mendapat operasi ringan dan menjalani perawatan intensif. Saat itu dia mabuk, aku dihajar habis-habisan sampai bebak belur seluruh tubuh. Beruntung empati tetangga kanan kiri cukup baik terhadapku sehingga akupun sedikit mendapat perlindungan. Kacau, kalut, tanpa ide. 


Seketika itu aku memutuskan untuk tidak lagi bersama. Konyolnya hal ini langsung ditentang serempak justru oleh keluargaku sendiri.Bahkan sempat keuanganku macet ketika aku tetap bersikukuh pada keputusan itu.

Tidak banyak yang kuharapkan selain kembali bersama. Karena aku lemah maka satu-satunya senjata yang kugunakan untuk membalasnya yakni berpaling dan membuatnya sakit hati. Ini terjadi beberapa kali, hanya untuk melihat bagaimana dia merasakan sakit seperti aku.Api dalam sekam, begitulah hubungan kami dipenuhi dengan aksi balas membalas sambil menunggu kapan sekam itu terbakar habis.

Puncaknya, kami akhiri menjelang wisudaku. Dia tetap tunjukan tanggung jawabnya sebagai laki-laki dengan membantu apa saja yang bisa dia bantu. Walau restu keluarga sudah ditangan, hampir tak ada penghalang yang berarti, namun kami tetap tidak dapat bersama lagi. Bukan karena kekerasan yang terjadi selama 4,5 tahun bersama. Detik ini jika ditanya, aku pun tak bisa menjawab apa yang membuat kami tak bisa bersama lagi. 



Namanya.. sampai sekarang masih sering dikumandangkan orang tuaku. Aku tak bisa berbuat banyak selain menyimpan rasa yang tak pernah hilang. Pernah kami kembali bertemu di penghujung tahun lalu, herannya tak satupun dari kami memulai pembicaraan lebih jauh. Hanya sebatas basa basi lantas dia kembali ke daerahnya. Kerinduan juga keengganan menjadi dilema bagiku sehingga tak berani bersuara.Walau begitu aku masih nyaman bergelayut dalam kenangan kami bersama.


Akhirnya, banyak sekali kesan tentang dia. Aku belajar bagaimana berumah tangga melalui dia. Komplit dan komplex. Romatis, komedi, action, tragis diramu jadi satu menghasilkan Elixir, Good Potion. Ramuan ampuh yang menjadikanku wanita hebat saat ini. 
Experience is the best teacher, betapa aku menyadari hal ini.
Terima kasihku untuk masa-masa berharga kemarin. Tanpa itu, aku tak bisa setangguh sekarang.



Selamat Ulang Tahun Nong...

Senin, 13 Juni 2011

Hidup : Bagian Tubuh Mana Yang Lebih Penting


Dari Millis tetangga……
Ibuku selalu bertanya padaku apa bagian tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. 
Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu.”
Jawabnya, “Bukan.  Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakanmu lagi nanti.”
 Beberapa tahun kemudian sebelum dia bertanya padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Jadi, kali ini aku memberitahukannya, “Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita.” 
Dia memandangku dan berkata, “Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta.” 
Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, “Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, anakku.” 
Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek. 
Dia bertanya padaku, “Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?” 
Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku. 
Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, “Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar “hidup”. Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus belajar pelajaran yang sangat penting.” 
Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air mata. Dia berkata, “Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu.” 
Aku bertanya, “Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?” 
Ibu membalas, “Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangin ketika mereka menangis. Kadang-kandang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya. ” 
Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialami oleh orang lain. 
Orang akan melupakan apa yang kamu katakan… Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan… Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti….



Kamis, 26 Mei 2011

Tidak Ingin Belajar Lagi

Sudah hampir sebulan ini saya dalam perang dingin dengan wanita yang saya panggil mama.

Berada dalam situasi seperti ini sangat tidak menyenangkan apalagi saya yang masih tinggal serumah dengan orang tua. Ganjil dan tidak terbiasa. Lebih banyak menghabiskan waktu dalam kamar (tidak terlalu membosankan juga karena semua yang saya butuhkan tersedia disitu). Saya cuma keluar saat ingin makan atau ke toilet.

Berpapasan? Masing-masing berlagak seolah tak melihat satu sama lain.

Kejadian itu berawal dari beberapa minggu lalu saat ada resepsi pernikahan salah satu sepupu. Hanya karena tidak turut membantu persiapan pernikahan, saya pun di ceramah habis-habisan. Tapi tidak sesederhana itu teman. Dari kata-kata yang keluar dari mulutnya, ada bahasa yang sangat menyakitkan - bahasa yang keluar dari relung hatinya saya kira. Apa yang dipendamnya selama ini akhirnya bisa saya tahu melalui momen itu. Seperti seorang mabuk yang terkadang jujur perkataannya saat sedang benar-benar mabuk.

Mengetahui itu amat menyakitkan. Seolah dihempaskan ke titik dasar untuk mengerti sebuah arti penolakan. Katakan ini cuma persepsi saya, tapi tidak ada alternatif lain dari bahasa itu yang mampu saya tangkap lagi. Bukan begini harusnya mama.

Muncul seribu, sejuta bahkan uncountable questions yang harus saya cari jawabannya. Apa yang bisa dimengerti dari anak usia 25 tahun terhadap maksud wanita 48 tahun? Kekecewaan, penyesalan, permusuhan dengan diri sendiri mulai menghidupi saya sampai saat ini. Saya habiskan berhari-hari hanya untuk menyelami ada apa dengan 5, 10, bahkan 25 tahun kemarin. Jika seorang ibu mengungkapkan betapa malunya ia dengan putrinya, apa yang harus saya lakukan?

"Jika boleh, sekali 'abrakadabra' ingin rasanya menghapus ingatan kami berdua tentang masa sulit kemarin. Tentang rasa syukur yang sudah saya panjatkan, tentang betapa bangganya punya ibu yang super hebat, tentang dia yang memainkan peran sebagai satu-satunya manusia yang mampu menerima saya dalam keterpurukan, atau tentang kepasrahan dan kasih sayangnya sewaktu menguatkan saya."


Harusnya dilupakan saja agar saya tidak perlu lagi percaya, ada ibu  disitu untuk menopang saya. 
Dan tidak harus se-extrim ini permainan sakit hati. Namun semua bergulir tanpa bisa saya kontrol lagi walau segala akal, akhlak, nurani sudah saya maksimalkan tetap saja tidak menjawab semua penolakan dari seorang ibu.
Maaf mama.  Untuk debu di wajah kalian. 
Awalnya saya percaya, kesalahan dan kekeliruan kemarin adalah proses belajar. Namun tidak untuk kali ini. 

Saya mulai meyakini bahwa itu semua hanya menjadi suatu bumerang bahkan untuk ibu kandung sendiri.
Kemana saya akan pergi tanpa pengakuan?


Rabu, 25 Mei 2011

Surat Melanie Subono untuk Tifatul Sembiring

Maret 29th, 2011 @ 9:48 AM

Surat untuk Yth Bpk Tifatul Sembiring.

Dengan hormat,
Dengan menjaga segala bentuk sopan santun yang bisa saya pikirkan, saya ingin menyampaikan surat ini kepada bapak, dan akan terus mencoba sampai bapak membaca dan memberikan komentar.

Sebagai orang yang berpendidikan dan mempunyai jabatan, saya rasa bapak pasti akan memberikan jawaban kepada saya, yang notabene adalah rakyat Indonesia biasa, pendidikan seadanya, tapi minimal saya punya hati nurani.

Bapak yang baik,
Saya ingin menanyakan satu hal yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Bukan terlambat, tapi saya sebagai orang beragama dan
berpendidikan, diajarkan untuk mendinginkan diri dulu, bicara tanpa emosi dan menggali data dengan benar sebelum bertanya. Sehingga jangan sampai ada kalimat sembarangan keluar dari mulut saya dengan emosi.

Bapak yang baik,
Ingatkah bapak bahwa beberapa saat yang lalu anda berbicara mengenai AIDS di twitter dan mengatas namakan penyebabnya
adalah :
” AKIBAT ITUNYA DIPAKAI SEMBARANGAN” ???

Kalau bapak lupa , bisa saya ingatkan karna tidak lama kemudian bapak kembali mengulang hal itu saat melakukan wawancara dengan Detik.

Bapak yang baik,
Kapankah terakhir kalinya bapak menginjak bangku sekolah ?
Andaikan terlalu jauh untuk bapak mengerti mengenai penyebab - penyebab penyakit tersebut,
pernahkah bapak mendengar yang namanya Hak Azazi, sopan santun, empati dan PERASAAN?

Bapak yang baik,
Dimata orang awam seperti saya, andalah orang yang harus nya bisa memberikan saya info dan masukan dan bimbingan.
Tapi tidak masalah kalau memang ternyata anda tidak pernah diajarkan dimanapun atau tidak pernah menemukan akses untuk
bisa mendapatkan data tentang AIDS.

Marilah kalau begitu, saya yang memberikan anda sedikit masukan.
1. Sebutlah mereka ODHA , Orang dengan HIV Aids.
2. Sebutlah mereka sahabat pak, karna mereka adalah sahabat.
3. Itu nya itu apa pak? Mulut nya dipakai sembarangan? Oh maaf. Kita tidak sedang membicarakan anda.
4. Saya mempunyai beberapa orang teman yang hidup sebagai ODHA, dan mereka perawan pak. Saya sharing info sedikit, hal
tersebut bisa kita dapatkan dari orang tua kita. Bukan dari ITU!
5. Saya punya banyak teman ODHA dan masih perawan juga pak, justru dengan
persentase lebih besar, mereka tertular melalui jarum suntik pak, bukan dari ITU !!!
6. Apakah anda tahu bahwa kita bisa berciuman sekalipun dengan ODHA, dan tetap tidak tertular selama kita tidak ada luka terbuka?
7. Apakah anda tahu bahwa kita bisa berhubungan badan dengan seorang ODHA dan berkurang resiko tertularnya dengan
benda yang disebut sebagai kondom?
8. Tahukah anda bahwa ada banyak cara lain tertular selain melalui ITU?? Ataukah cuma itu yang ada di kepala bapak?
Banyak sekali lembaga diluar sana yang sangat terbuka untuk memberikan info mengenai HIV Aids.

Bapak yang baik, apakah pembicaraan ini tabu dan haram untuk anda?
Seharam menyentuh seorang wanita kecuali itu adalah ibu negara dari negara adidaya?

Bapak yang baik,
Pernahkah anda berpikir bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kecuali memakan kepala sendiri?
Pernahkah anda berpikir bahwa suatu hari, salah satu anggota keluarga anda mungkin saja mengalami hal ini?

Pernahkah anda bayangkan rasanya disaatitu, orang menunjuk keluarga anda dan
cuma berkata "ITU NYA SIH DIPAKE SEMBARANGAN !!!"

Bapak yang baik,
Mengertikah anda kata empati atau simpati … ataukah anda sama tidak mengertinya seperti anda tidak mengerti gejala dan penyebab penyakit HIV Positif?

Bapak yang baik,
Kalau mereka dianggap buruk karena tidak bisa menjaga tubuhnya, apakah bedanya mereka dengan orang lain yang tidak bervirus bakteri tapi memakan lemak setiap hari bak pejabat rakus dan harus sakit-sakitan karena kerakusannya?
Sama pak .

Sehingga saat kita tidak menjaga
tubuh, makan, mulut dengan baik, kita sama-sama mengidap pnyakit itu dengan cara yang berbeda?

Bapak yang baik,
"Siapakah yang memberi hak kepada anda untuk menilai orang lain, dan siapakah yang pernah menunjuk anda atau memberikan
anda derajat yang lebih tinggi dari orang lain?"

Bapak yang baik,
Tahukah anda bahwa baik presiden maupun abang becak itu sama kedudukannya di mata TUHAN??

Bapak yang baik,
Pernahkah bapak berpikir bahwa semua orang pasti disaat nya melakukan pilihan yang salah, atau kadang tidak mempunyai
pilihan sama sekali ?
Sama seperti mereka yang menjadi ODHA tanpa pilihan?

Sama seperti mereka yang pernah berbuat salah dan kini sudah menyesal dan menerima tanpa harus diingatkan dan dihina lagi?
Bukankah itu makna agama?
Bukankah akar dari semua agama harusnya adalah KASIH?.

Bapak yang baik,
Satu pesan yang diajarkan orang tua, keluarga, suami, sahabat dan agama saya adalah:
Jangan hidup bak Tong Kosong Nyaring Bunyinya.

Jangan mengatakan sesuatu tanpa berpikir. 
Jangan pernah menganggap diri kita lebih baik dari orang lain.



Hormat Saya,
Melanie Subono




Selasa, 24 Mei 2011

Ingin dan Pulang

Tetap di stigma yang sama
merindukan sosok yang tak nyata
lebih buruk dari si pungguk pada sang bulan
ada garis namun tak kuterka berapa panjangnya
si lurus tebal inilah pembatasnya
ah tak bisa kusingkirkan
cuma ada satu jalan
lewati saja.

Pelan seolah tak ingin tertangkap mata
kuangkat kaki bagian kiri 
kenapa kiri?
otomatis saja ketika fokusku tertumpu pada 
sosok kesayangan itu

Dan oh.. aku terpental
jauh melampaui perpanjangan jalan berkelok
mencoba tegak untuk kembali
namun sebaiknya diurungkan saja

Kutatapi dari kejauhan
samar sosok itu terlihat
bertudung ekpresi tak berekspresi

coba lagi pertajam sudut lihatku
dia seolah berkata
"jangan kesini dulu.."



_Lecon
16.05.11