Kamis, 12 April 2012

Bigger Stronger



: Aceh Nangroe Darussalam


Apakah mata akan kau katakan tak tertolong
Apabila dari mereka tercurah air mata?
Apakah hati akan kau katakan tak terjaga
Apabila kau mendapatinya berkeping-keping?

Karena tak lagi selalu kedukaan
Akan kita rayakan dengan tetes air mata
Dan tak juga selalu kekecewaan
Akan kita lantunkan dengan rerintihan

Bahwa kita mulai lebih menyukai diam ini
Daripada sorak sorai yang kemarin
Dan kebahagiaan tetaplah sama
Seperti dulu, "Tuhan ada di hal-hal sederhana."

Melalui semua ini aku belajar
Tangan yang mengasihi terkadang menghajar
Dan aku tahu, itu bukan untuk melukai
Tetapi menjadikannya lebih besar dan kokoh


Mazmur Prasetya Aji_130412

Selasa, 10 April 2012

Happy Belated Day to Me - My Self - and I


*teplok teplok suit swuitttt*

          

          Sebenarnya masih kurang sepersekian menit menuju teng genap 26 tahun saya bernafas, tapi saya sudah mulai menulis dengan perhitungan saat nanti selesai tulisan ini, waktu setempat telah menunjukkan pukul 00.00 wita. 
Memang terkesan sedikit narsis dan memaksakan diri *hadeh penting gak seh* tapi inilah saat yang paling ampuh untuk memberi ruang kepada Me mengapresiasi My Self yang sudah selama 26 tahun berdampingan mesra dengan I (nah lho bingung kan?! hehe drita lo)

Saya membagi kategori saya dalam tiga komponen yaitu Me - My Self - I. Ada baiknya saya sendiri yang membahas tentang diri saya (nunggu dibahas DPR lama euy!)

  • ME
        Me adalah saya, dengan nama panjang Lely Taolin dan silahkan dipendekin sendiri untuk nama bekennya. Me sering dipanggil miss Lecon oleh spesies sekeliling yang konon katanya singkatan dari 'Lely Konyol' - pemberian nama mulia oleh teman kosan dulu. Nama itu bukannya tanpa sebab karena menurut mereka, kata konyol sudah cukup menggambarkan sedikit dari banyak perilaku Me yang ajaib dimata mereka sampai terkadang saya bingung mengapa Me menjadi begitu fantastis, bombastis, menggelora dan berapi-api bahkan sampai menyebabkan terjadinya kebakaran dalam skala besar (jyaaaah! tolong ingatkan jika saya mulai merancu). 
       Jadi ceritanya pernah ada kejadian semasa masih jadi ABK dulu (anak baru kuliahan), Me berakting pingsan persis hari pertama masa ospek kampus dan berhasil menarik 3 juta simpatik saat itu *toweweng*. Malamnya saat sesi keterbukaan di kos, barulah Me mengaku dengan segenap kekuatan yang dikumpulkan bahwa ikhwal kejadian itu hanya karena Me mengantuk blom tidur seharian plus mumet meladeni pertanyaan tentang komodo dari beberapa kawula muda Bali sehingga memaksa adrenalin Me untuk total berakting jatuh di lapangan lalu digotong keluar. As simple as begituuuu mangkenye Me become a superstar buat pak satpam seharian penuh tuh.
       Nah kembali lagi ke soal komodo, dari awal memang Me terinspirasi dengan Dragon Ball jadi tiap kali ditanya tentang komodo, Me dengan cuek menjawab, "Kalau ke pulau komodo harus serba hati-hati soalnya radius 500 meter komodo bisa mengeluarkan semburan api yang dasyat...!". 
Lha ajaibnya mereka malah percaya dan makin penasaran. Jadilah pertanyaan yang muncul udah kayak aer terjun Bengawan Solo (ude ngangguk aja gak usah protes). Nah skarang siapa yang konyol hayooo, Me atau...? *kabuuuuuurrr before disambit pentolan bakso*
Maka terjadilah kesepakatan untuk memberi Me identitas atas nama Lecon oleh para tetua adat semester yang mendiami kosan kala itu. Saat ini nama itu masih terus dikumandangkan para jurnalis majalah Time is up!

  • MY SELF
       Next, My Self adalah tetap saya dengan tubuh tinggi yang kurang semampai, berbicara minus huruf 'R', wajah oval dan mata indah setajam sikat gigi, senyum manis yang mengguncang para balita, plus kata orang My Self itu kurus tapi bagi saya body seperti itu dinamakan pro-por-sio-nal karena hasil kali bagi berat dan tinggi badan masih dalam angka normal. Jadi tolong dikaji ulang bagi semua makhluk yang mem-push saya dengan keras guna mengkonsumsi segala jenis makanan, plis My Self bukan omnivora. My Self cuman pengkonsumsi makanan enak dan gratisss, kalau bisa skalian bungkus dua!! itu aja apa susahnya?
       Pada akhirnya saya sangat bangga dengan pemberian Tuhan untuk My Self, yeah sungguh-sungguh sempurna dimata saya. My Self sampai saat ini selalu mampu melewati ambang batas keterpurukan ditengah makhluk cakep - setengah cakep - ataupun keren gila. 
Saya selalu percaya My Self trully a Gift from God ^^. 

  • I
       Beuh kalau masuk ke ranah ini, saya sedikit tergoda untuk berbicara lebay karena cuman kacamata saya yang berfungsi melihat kedalaman I disni. I adalah sosok yang sangat mencintai ketenangan, kegembiraan, senyum diwajah orang yang dikenal ataupun tidak. 
      I adalah pribadi yang lembut tapi juga seorang fighter yang berbobot. I tidak bisa melihat ketidakadilan dan kesusahan disekelilingnya, I murah hati sampai sering ditawar diskon 70+30%. Soal berkorban jangan ditanya, I berani sekali berkorban apa saja yang dimilikinya asal bisa membantu orang yang sedang membutuhkan. I ingin selalu dipenuhi cinta dan perhatian walaupun susah baginya untuk memberikan feedback lagi. 
      Namun harus diakui I sering sekali egois, angkuh pada level tertentu, pantang tersaingi dan merasa kehilangan (ancur banget), juga menjadi tidak pemaaf di situasi tertentu. Dalam bahasa ringkas, I itu pendendam dan penjaga wibawa dengan cara-cara yang cantik. I punya kharisma untuk menyedot perhatian karena I percaya semua pasti bisa diselesaikan.
      Segala yang berurusan dengan asmara I rapuh. Tapi I punya potensi besar untuk segera bangkit lagi. Kurang lebihnya I adalah kekuatan yang sesungguhnya.
I kuat dengan kelemahan dan semakin kuat dalam kelebihan. Hanya butuh banyak diasah agar I peka.

Finally, inilah Saya dengan ketiga pasukan pertahanan oksigen.
Usia 26 tahun hanyalah angka, tapi dalam angka itu saya berusaha mengisinya dengan angka perubahan diri yang semakin tinggi. 
Setiap usia ada harganya dan di usia saya kali ini, harga yang ingin saya berikan adalah "Jangan biarkan setiap waktu berlalu begitu saja".
Terima kasih untuk 25 tahun kemarin, Me-My Self-I silahkan atur 26 tahun kedepan.
 

Dengan kuasaNya, saya akan terus belajar memaknai tiap detil waktu berjalan... sampai usai usia




Minggu, 12 Februari 2012

First Lady China, Madame Mao


Di balik seorang lelaki hebat, selalu ada perempuan yang lebih hebat. Saya percaya betul dengan kalimat itu. Ingat bagaimana mendiang Bu Tien diyakini sebagai otak di balik layar kesuksesan seorang Soeharto di masanya.


Yang lebih jelas lagi adalah bagaimana Jiang Ching berdiri tegar di samping seorang Mao Tse Tung, tokoh sosialis Cina yang menjadi legenda sepanjang masa.
Membaca buku Madame Mao karya Anchee Min membawa kita ke kisah perjuangan jatuh bangun seorang perempuan. Bukan hanya dari nol, melainkan minus, Jiang Ching yang terlahir sebagai Yunhee berjuang keras mewujudkan mimpi-mimpinya untuk menjadi ayam merak di antara ayam betina biasa. Bahkan di luar dugaan ia menjadi burung cendrawasih saat berhasil menjadi First Lady Cina.


Awalnya saya pribadi agak meremehkan pribadi Madame Mao yang bisa dikatakan lemah dalam menghadapi lelaki dalam urusan romantisme. Bagaimana tidak, sebelum menikah dengan Mao, perempuan asal Shangdong itu sempat tiga kali menikah. Ia terobsesi dengan keinginan menjadi artis opera dan film, hingga jatuh ke satu pelukan lelaki yang satu ke yang lain. Maaf, untuk hal satu ini saya sama sekali tidak simpati.


Namun seiring pengalaman pahitnya, Jiang Ching mampu mengontrol diri. Keputusan paling berarti dalam mengubah hidupnya adalah saat ia bertekad untuk gabung dengan gerakan komunis Cina. Ia meninggalkan gemerlap Shanghai menuju Yenan, provinsi miskin tempat dimana Mao merintis perjuangan komunisnya. Di sinilah titik pertemuan mereka.


Menikahi seorang pemimpin sebesar Mao bukan perkara mudah. Jiang Ching harus mematuhi aturan ia tak boleh tampil bersama di depan umum di awal perjuangan mereka. Ia tak boleh ikut campur urusan politik walau dipanggil sebagai "komrad". Padahal ia lah yang terlibat diskusi non formal bersama Mao. Ia lah yang mempengaruhi begitu banyak keputusan si pemimpin besar itu. "Aku melakukan semuanya tapi sekaligus juga aku tidak ada," tutur Madame Mao. Dalam hati kecilnya ia merasa iri dengan istri-istri petinggi lain yang sangat dimanjakan suaminya.


Yang mengenaskan adalah ulah Mao berganti-ganti teman tidur sampai terkena spilis. Jiang sebagai istrinya sendiri lah yang setengah mati berkeras agar Mao diobati agar tidak menularkan penyakit itu ke perempuan lain.

Demi menghibur diri, Jiang Ching kembali menghidupkan gerakan kesenian opera yang sempat jadi dunianya di masa muda. Operanya kali ini berbau propaganda Maoisme. Ia juga diam-diam menggalang kekuatan bersama mahasiswa dibantu orang kepercayaannya, Kang Sheng. Kabarnya Jiang juga melakukan serangkaian aksi kekerasan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang pernah menghinanya di masa lalu. Salah satunya adalah Dan, aktor idola di masa Jiang muda yang pernah menolak cintanya.


Siapa kira justru penderitaan dan perjuangan Jiang Ching jauh lebih berat dari Mao sang suami. Setelah meninggalnya Mao pada Oktober 1976, Jiang dipenjara. Sempat juga "dibuang" ke Soviet. Ia masih membela mati-matian idealisme almarhum suaminya sampai terkenal dengan ucapannya: "Saya adalah anjingnya Mao, saya menggigit siapa saja yang diperintahkannya."


Pada usia 77 tahun, perempuan yang sejak gadis ditinggalkan oleh ibunya itu menggantung dirinya sampai mati.


Tragis, atau ironis?


Maaf, tanpa mengurangi hormat kepada almarhum, saya tidak ingin seperti Madame Mao. Paparan saya ini hanya sekadar penggambaran bagaimana seorang perempuan hebat selalu bersanding dengan lelaki hebat. Tapi saya pribadi memilih tak bersanding dengan siapapun daripada harus hidup dan mati konyol. Hmm kecuali jika ada cinta yang mampu membutakan saya.




*Milis Teman, http://revolusihidup.blogspot.com/2007/12/madame-mao-merak-di-antara-ayam-betina.html

Sabtu, 15 Oktober 2011

3 Pertanyaan Seorang Atheis


Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri Sam kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, siapapun yang boleh menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.


“Anda siapa? Dan apakah boleh anda menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?” Pemuda bertanya. “Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan saudara.” Jawab Guru Agama. 
“Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.” 
Jawab Guru Agama “Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya”


Pemuda : “Saya punya 3 pertanyaan;


1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan kewujudan Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dimaksudkan dengan takdir?
3. Kalau setan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api?, tentu tidak menyakitkan buat syaitan, sebab mereka memiliki unsur yang sama.


Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”


Tiba-tiba Guru Agama tersebut menampar pipi si Pemuda dengan kuat. Sambil menahan kesakitan pemuda berkata “Kenapa anda marah kepada saya?” Jawab Guru Agama “Saya tidak marah… Tamparan itu adalah jawapan saya kepada 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya”.


“Saya sungguh-sungguh tidak faham”, kata pemuda itu. 
Guru Agama bertanya “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. 
“Tentu saja saya merasakan sakit”, jawabnya. 
Guru Agama bertanya ” Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?”. 
Pemuda itu mengangguk tanda percaya. 
Guru Agama bertanya lagi, “Tunjukan pada saya wujud sakit itu!” 
“Tak bisa,” jawap pemuda. 
“Itulah jawapan pertanyaan pertama: kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.” terang Guru Agama.


Guru Agama bertanya lagi, “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”. “Tidak” jawab pemuda. 
“Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?” “Tidak” jawab pemuda. 
“Itulah yang dinamakan Takdir” terang Guru Agama.


Guru Agama bertanya lagi, “Diperbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”. 
“Kulit,” Jawab pemuda. 
“Pipi anda diperbuat dari apa?” 
“Kulit" Jawab pemuda. 
“Bagaimana rasanya tamparan saya?” 
“Sakit.” Jawab pemuda. 
“Walaupun Setan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk
setan.” Terang Guru Agama.





Referensi :
http://archive.kaskus.us/thread/4347408

Sabtu, 17 September 2011

“Tuhan belum selesai dengan saya”


Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil, yang telah mempunyai 8 anak, tiga diantaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankan untuk menggugurkan kandungannya?
Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh satu komponis masyhur dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.
dan…..
Sekarang adalah waktunya untuk memilih seorang pemimpin dunia dan keputusan anda berpengaruh besar terhadap siapa yang akan menjadi pemenang. Berikut adalah fakta mengenai ketiga calon tersebut:
Calon A: dihubung-hubungkan dengan politisi jahat dan sering berkonsultasi dengan astrologis, punya dua istri muda, dia juga seorang perokok berat dan minum 8-10 botol martini setiap harinya.
Calon B: dipecat dua kali dari kantor, selalu bangun sore hari, pernah menggunakan narkoba waktu kuliah dan minum wiski tiap sore.
Calon C: dianggap pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, hanya sesekali minum bir, tidak pernah berselingkuh di luar perkawinannya.
Siapa di antara ketiga calon ini yang akan anda pilih? Anda mungkin tidak akan menduga siapa sebenarnya calon-calon ini.
Calon A adalah Franklin D. Roosevelt
Calon B adalah Winston Churchill
Calon C adalah Adolf Hitler
Sekali lagi sejarah mengajarkan untuk tidak menilai orang dari penampilan.
Refleksi :
Kita tidak selalu tahu apa yang sedang dan masih mungkin terjadi di dalam hati seseorang. Di sanalah (di dalam hati), perjalanan yang sesungguhnya sedang terjadi. Selama kita belum bisa melihat ke dalam hati seseorang dan belum bisa mengikuti proses-proses yang masih berlangsung di dalamnya (dan memang tidak akan pernah bisa), maka sebenarnya selama itulah kita tidak mempunyai hak apapun untuk menghakimi sesama kita.
Mungkin baik bagi kita membiasakan diri untuk melihat secara imajiner, bahwa di dada setiap orang terpampang sebuah kalimat “Tuhan belum selesai dengan saya”



Senin, 15 Agustus 2011

Jerit Si Renta...

Tujuh belas pria
Delapan wanita 
Empat puluh lima anak-anak
Itu Indonesia

Merah meriah 
Putih lagak kita
Bersiap menyongsong viktori
Gemilang, gemuruh, 
Gejolak semusim seperti agenda tahunan

Namun disudut lapangan
Kakek nenek renta murung menatap tiang
Dipuncaknya ada kain
Apa itu masih merah putih yang dulu?

Batin mereka...
Rumusan itu kami yang buat
Kalian tinggal melanjutkan saja

Sistem itu juga, kami yang susun
Kalian hanya sisa mebenahi 

Nasionalisme itu,kami yang tanam
Semoga kalian masih ingat soal itu

Lalu integrasi?
Jangan lupa, kami wafat untuk itu
Dengan raungan 
Dan bukan rengekan

Singkat saja, kami beri kalian warisan
Tanpa manipulasi, egoistis atau kekuatan liar
Berharap kalian punya identitas identik pancasila,
Bukan membebek saja pada sabda teknokrat

Itu wajah kami,
Bagaimana wajah kalian sekarang?

Kami lihat kalian resah bila tak bermodal
Orientasi beralih menuju penumpukan kekuasaan
Semakin keadilan dicanangkan jadi asas pembangunan
Semakin pula keadilan jadi ideal tak kesampaian
Menghukum yang kecil 
Membesarkan yang besar
Hukum dikomoditikan dengan nilai tukar
Lalu jadi jadi momok tua di era sejuta harapan

Ampun Gusti, kami yang salah
Lupa mewariskan akal budi jua
Sehingga hanya kami yang mampu melihat
Merah putih yang kalian samarkan
Sekarang jadi hitam.


Lecon Alfa Privatinum_13'08'11



Selasa, 09 Agustus 2011

Pengakuan sebuah Bendera



Perkenalkan....
Akulah bendera usang itu

Terbuat dari kain murahan
yang di beli dari sebuah pasar kampung yang pernah terbakar
dijahit oleh benang-benang bekas celana dalam para pelacur dan lelaki hidung belang
namun..........
enam puluh enam kali sudah aku berkibar
sambil menyanyikan romantisme kemerdekaan picisan

Akulah bendera usang itu....
yang tak begitu halus menyentuh riasa mereka
lalu meninggalkan luntur pada safari mahal mereka
pada sebuah perayaan meriah

Akulah ini....
bendera usang itu....

Berkibar dengan gugup di ujung sebuah tiang bambu
sembari ragu memandang wajah-wajah tak tahu malu
sekaligus....
akulah bendera yang berkibar dihalaman sebuah Istana
ketika kemerdekaan malah meletuskan sebuah perang

Di depanmu ibu...
Aku mengaku....
Kalau akulah bendera itu

Penyebab sekaligus saksi atas ribuan mayat anak-anakmu

Inilah aku ibu.....
Benderamu......

Yang  memimpikan kelak menjadi Kafan
bagi seorang bocah yang melantukan  Lagu padamu Negeri
di sebuah jalan panas kota ini

Abner Paulus Raya, Agustus 2011


Senin, 08 Agustus 2011

Imperialisme dan Kapitalisme


Senin, 6 Juni 2011 | 14:00 WIB 
Pidato Indonesia Menggugat 
Oleh : Ir. Soekarno
Artinya



Tuan-tuan Hakim yang terhormat!
Di dalam aksi kami sering-sering kedengaran kata-kata “kapitalisme” dan “imperialisme”. Di dalam proses ini, dua perkataana inipun menjadi penyelidikan. Kami antara lain dituduh memaksudkan bangsa Belanda dan bangsa asing lain, kalau umpamanya kami berkata “kapitaisme harus dilenyapkan”. Kami dituduh membahayakan pemerintah kalau kami berseru “rubuhkanlah imperialisme”. Ya, kami dituduhkan berkata bahwa kpitalisme = bangsa Belanda serta bangsa asing lain, dan bahwa imperialisme = pemerintah yang sekarang!

Adakah bisa jadi benar tuduhan ini? Tuduhan ini tidak bisa jadi benar. Kami tidak pernah mengatakan, bahwa kapitalisme = bangsa asing, tidak pernah mengatakan bahwa imperialisme = pemerintah. kami pun tidak pernah memaksudkan bangsa asing kalau berkata; kapitalisme, tidak pernah memaksudkan pemerintah atau ketertiban umum atau apa saja kalau kami berkata imperialisme. Kami memaksudkan kapitalisme kalau kami berkata kapitalisme; kami memaksudkan imperialisme kalau kami berkata imperialisme!

Maka apakah artinya kapitalisme? Tuan-tuan Hakim, di dalam pemeriksaan sudah kami katakan, Kapitalisme adalah sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi. Kapitalisme timbul dari ini cara produksi, yang oleh karenanya, menjadi sebabnya nilai-lebih[1] tidak jatuh di dalam tangan kaum buruh melainkan jatuh di dalam tangan kaum majikan. Kapitalisme, oleh karenanya pula, menyebabkan akumulasi kapital , konsentrasi kapital , sentralisasi kapital , dan industrielle reserve-armée[2] . Kapitalisme mempunyai arah kepada Verelendung[3] (baca: pemelaratan).

Imperialisme bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialisme juga hanya nafsu atau sistem mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain! (Bung Karno)
Haruskah kami di dalam pidato ini masih lebih lebar lagi menguraikan, bahwa kapitalisme itu bukan suatu badan, bukan manusia, bukan suatu bangsa,–tetapi ialah suatu faham, suatu pengertian, suatu sistem? Haruskah kami menunjukkan lebih lanjut, bahwa kapitalisme itu ialah sistem cara produksi, sebagai yang kami telah terangkan dengan singkat itu? Ah, Tuan-tuan Hakim, kami rasa tidak. Sebab tidak ada satu intelektuil yang tidak mengetahui artinya kata itu. Tidak ada satu hal di dunia ini, yang sudah begitu banyak diselidiki dari kanan-kiri, luar dalam, sebagai kapitalisme itu. Tidak ada satu hal di dunia ini, yang begitu luas perpustakaannya, sebagai kapitalisme itu, –hingga berpuluh-uluh jilid, berpuluh-puluh ribu studi dan buku-buku standar dan brosur-brosur tentang itu.

Tetapi apa arti perkataan imperialisme? Imperialisme juga suatu faham, imperialisme juga suatu pengertian. Ia bukan sebagai yang dituduhkan kepada kami itu. Ia bukan ambtenaar binnelandsch bestuur[4], bukan pemerintah, bukan gezag[5], bukan badan apapun jua. Ia adalah suatu nafsu, suatu sistem menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri,–suatu sistem merajai atau mengendalikan ekonomi atau negeri bangsa lain. Ini adalah suatu “kejadian” di dalam pergaulan hidup, yang timbulnya ialah oleh keharusan-keharusan di dalam ekonomi sesuatu negeri atau sesuatu bangsa. Selama ada “ekonomi bangsa”, selama ada “ekonomi negeri”, selama itu dunia melihat imperialisme. Ia kita dapatkan dalam nafsu burung Garuda Rum terbang ke mana-mana, menaklukkan negeri-negeri sekeliling dan di luar Lautan Tengah. Ia kita dapatkan di dalam nafsu bangsa Spanyol menuduki negeri Belanda untuk bisa mengalahkan Inggris, ia kita dapatkan di dalam nafsu kerajaan Timur Sriwijaya menaklukkan negeri semenanjung Malaka, menaklukkan kerajaan Melayu, mempengaruhi rumah tangga negeri Kamboja atau Campa. Ia kita dapatkan di dalam nafsu negeri Majapahit menaklukkan dan mempengaruhi semua kepulauan Indonesia, dari Bali sampai Kalimantan, dari Sumatera sampai Maluku. Ia kita dapatkan di dalam nafsu kerajaan Jepang menduduki semenanjung Korea, mempengaruhi negeri Mancuria, menguasai pulau-pulau di Lautan Teduh. Imperialisme terdapat di semua zaman “perekonomian bangsa”, terdapat pada semua bangsa yang ekonominya sudah butuh pada imperialisme itu. Bukan pada bangsa kulit putih saja ada imperialisme; tapi juga pada bangsa kulit kuning, juga pada bangsa kulit hitam, juga pada bangsa kulit merah sawo sebagai kami,–sebagai terbukti di zaman Sriwijaya dan zaman Majapahit; imperialisme adalah suatu “economische gedetermineerde noodwendigheid”, suatu keharusan yang ditentukan oleh rendah tingginya ekonomi sesuatu pergaulan hidup, yang tak memandang bulu.

Dan sebagai yang tadi kami katakan, –imperialisme bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialisme juga hanya nafsu atau sistem mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain! Ia tak usah dijalankan dengan pedang atau bedil atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa “pengluasan negeri-daerah dengan kekerasan senjata” sebagai yang diartikan oleh van Kol[6] (Seorang anggota parlemen Belanda) –tetapi ia bisa juga berjalan hanya dengan “putar lidah” atau cara “halus-halusan” saja, bisa juga berjalan dengan cara “pénétration pacifique”.

Terutama dalam sifatnya mempengaruhi rumah tangga bangsa lain, imperialisme zaman sekarang sama berbuahkan “negeri-negeri mandat” alias “mandaatgebieden”, daerah-daerah pengaruh” alias “invloedssferen” dan lain-lain sebagainya, sedang di dalam sifatnya menaklukkan negeri orang lain, imperialisme itu berbuah negeri jajahan, –koloniaal-bezit.


*) Diambil dari Risalah “Indonesia Menggugat” yaitu Pidato Pembelaan Bung Karno di depan pengadilan kolonial (landraad) di Bandung, 1930.



[1] Nilai lebih (merrwarde): kelebihan hasil yang diterima majikan, dari produksi kaum buruh.
[2] industrielle reserve-armée: barisan penganggur


[3] Verelendung: Memelaratkan kaum buruh.

[4] ambtenaar BB (binnelandsch bestuur): pegawai pamong praja kolonial belanda


[5] Gezag: kekuasaan.


[6] Van Kol Henri Hubert (1852-1925) , seorang sosialis yang turut mendirikan Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) dan pernah menjadi Menteri Jajahan. Kata-kata ini diucapkan Van Kol dalam sidang Tweede Kamer, 22 November 1901.

Kamis, 04 Agustus 2011

“Jangan bilang gue perawan!”

 Mitos kalayak kebanyakan ‘menuduh’ perempuan berumur yang belum menikah pasti sensitif dan galak. Buktinya, kalau ada bos perempuan di kantor cerewet dan jutek, ditanya, ‘dia sudah menikah atau belum?’,  jika jawabannya ‘belum’ ditanya lagi, ‘umurnya berapa,’ dijawab ’30an’, akhirannya pasti, ‘Oh, pantesan … perawan tua.”


Beberapa teman suka menghindar ke pesta kawinan dengan alasan belum ada pasangan. Basi namun kenyataan hampir selalu demikian. Si Dina sampai bela-belain bikin meeting after office hour untuk menghindar pesta pernikahan kerabat dengan alasan yang sama. Suka sebel ditanya ‘mana pasangannya dan kamu kapan giliran nikahnya?’, cukup membuat Dina bete sama para tante yang suka berbasa-basi tak berperasaan itu. Dina curhat, “kenapa ya, pertanyaan tersebut selalu diulang layaknya lingkaran setan, tak berhenti sampai ‘sudah punya cowok belum?’, kalau sudah diteruskan ‘kapan menyusul?’, sudah married, “kok belum punya momongan?’, dapat satu, ‘ngga nambah nih?’. Untung tidak diteruskan lagi, ‘ngga bosan sama dia terus?’, jika bercerai pertanyaan diulang dari awal.” Hadoh!

Kakak Dina yang sudah 5 tahun menikah namun belum beranak sudah kebal dicecar pertanyaan lanjutan tadi. Sampai ada penorma berkata bahwa anak itu adalah pelepas lelah dikala capek, anak membuat tawa dikala sedih, anak adalah bla-bla-bla…, kalau tua nanti siapa yang menjaga kita kalau bukan anak sendiri. Heh? Dina tambah panas, “kalau capek yah istirahat, memangnya anak badut? Kalau mau ketawa nonton komedi saja, bla-bla-bla…, kasian banget anaknya, dijadikan ‘jamsostek’!, mending gue masuk rumah jompo, deh!”. Saya menghibur Dina dengan sebuah joke: ‘Old people always poke me at the wedding and say ‘you are next’, si, I started to do the same thing to them at the funerals. Dina bilang, ngga tega.

Saya salut sama ‘si-Parasit Lajang’, Ayu Utami yang memilih untuk tidak menikah dan sangat setuju dengan pemikirannya; bahwa pernikahan seakan menjadi satu-satunya pilihan. Tanpa menikah pun seseorang bisa bahagia, lebih bahagia mungkin daripada mendapat tekanan dalam perkawinan itu sendiri. Buktinya, banyak teman-teman yang perkawinannya tidak bahagia dan berakhir dengan perceraian. Menikah untuk keturunan juga adalah tekanan. Bagi kakak Dina, usaha mempunyai anak sudah paling maksimal, suntik hormon sampai bayi tabung. Bagi saya, konsep punya anak hanya dua hal; enak dan gratis -kebalikannya, itu bukan konsep saya.

Menikah hanya untuk sex halal, sama sekali tak setuju. Banyak ‘pemerkosaan’ suami terhadap istri dalam sebuah perkawinan dan banyak pula selingkuh diluar pernikahan. Itu konsekuensi pernikahan?, mendingan tidak sama sekali. Bagi Dina lain lagi, saking bosannya dengan pertanyaan tersebut, dia berplakat, ‘Loe boleh bilang gue udah tua, tapi jangan pernah bilang gue masih perawan!’ KAK! 

Selasa, 02 Agustus 2011

Sekali Lagi...

Fiuuhh… akhirnya aku bisa mengatakannya juga, lebih tepatnya memberitahukan tanpa bersuara karena cuman lewat sms dari nokia 1100 bututku.


“Bahwa ada seseorang khusus diciptakan untukmu. Kita akan menemukan teman sejati kita, tapi untuk mencintai dan bersamanya adalah tetap pilihan kita untuk mewujudkannya. Bang maaf kita bubaran saja. Kita tak mungkin mewujudkan apa-apa, lebih baik begini saja”
Begitulah kira-kira bunyi sms yang kukirimkan pada Rynal, lelaki yang 15 menit lalu masih kupanggil “sayang, aku memikirkanmu…”

Tak lewat semenit hapeku kembali mengeluarkan suara kodok pertanda ada sms baru.
“kok jd tiba2 gni sih???” ini balasan yang kudapat.

Dengan sisa kekuatan logika yang masih berdiri sempoyongan aku coba membalasnya :
“Maaf bang sebenarnya mikirnya udah dari kmaren cm br bs ngomong saat ini. Skali lagi maaf ya, gk bs ngomong langsung ke abang.”

Dan begitulah kontak terakhir aku dan Bang Rynal. Tak ada balasan lagi darinya. Aku pun cukup tahu diri untuk menjaga pikiran positifku atas tindakan negative yang sudah aku lancarkan. Secara etika, harusnya bukan begini cara yang baik.

Aku dan Bang Rynal sadar sekali atas resiko hubungan yang kami jalin. Tak bertujuan, hanya ingin menikmati atas dasar suka sama suka pada awalnya. Ada kebahagiaan yang merayapi kami. Sesuatu yang fresh yang sudah lama tidak aku kecap. Sebelum kehadirannya sempat berfikir bahwa hatiku sudah mati. Tapi dia beda. Dia adalah nuansa sayang yang benar menyentuh perasaanku. Ah indah sekali saat kami bersama. Bawel vs Ndut hehe begitulah panggilan kami berdua.

Usia kami berdua terpaut 9 tahun berbeda, ditambah dengan perbedaan budaya dan keyakinan yang tentunya semakin sulit menyatukan kami. Meski begitu, kami tetap saling mendukung dalam aktivitas baik kerja maupun religi.

Menurutku tak penting memikirkan perbedaan itu asalkan tetap satu hati dan saling mensupport maka kami akan terus bahagia. Tapi di titik tertentu aku terpaksa harus menepis anggapan itu. Usia yang semakin bertambah otomatis mengarahkanku pada pilihan dan keputusan. Ya.. kami tak bisa mewujudkan apa-apa dari jalinan ini jadi sebaiknya kuakhiri saja.

Kembali teringat suara seorang teman di telingaku, 
“…Lel ada paradigma berpikir yang sedikit keliru tentang perbedaan. Sering kita mengatasnamakan agama dan lainnya sebagai hambatan. Bukan itu poinnya, Dari awal kau menjalani hubungan itu bukan tidak tahu kalau kalian memang berbeda. Dan akhirnya kalian tetap membukukannya. Setelah itu baru muncul uneg-uneg seperti ini. Saat kita bicara perbedaan dan hubungan asmara, mari bicara dari perspektif yang terbuka.”

Katakanlah aku naïf, pesimis bahkan pecundang. Jangan pula tanyakan perasaanku saat sekarang. Tipis sekali aku memandang iklas dan terpaksa. Saat ini logikaku yang diunggulkan, walau tak sanggup menutupi perihnya rasa ini tapi aku bisa apa. Menyesal tidak kupedulikan lagi. Asalkan jangan lebih sakit nanti, karena belum tentu aku kuat.


Seperti yang kau bilang Bang, “Disaat kau memilih untuk bersama dengan seseorang, tidak peduli dengan hal lainnya, itu adalah pilihan. Kita mungkin akan menemukan teman sejati kita dengan kesempatan yang ada, tetapi untuk mencintai dan bersama dengan teman sejiwa kita, itu adalah tetap pilihan kita untuk mewujudkannya.”

Saat kita bersama itu adalah pilihan. Tapi kita berdua tahu, bahwa kita sama-sama tak mampu membuat pilihan untuk mewujudkannya…


Lecon_02.08.2011
Kamar Mayat