Minggu, 21 Oktober 2012

Poster Kegelisahan Hari Ini

Saya gelisah di hari ini
Di tengah euforia keramaian Festival Ulang Tahun Dewa "Fat Cu Kung" Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat
Di tengah sorak sorai warga keturunan Tionghoa dan pribumi asli,
saya masih tetap gelisah

Jakarta oh Jakarta....
Sambil tersenyum, sambil gelisah
Tinggalkan sesuatu buat anak cucu kita nanti 
Jika tidak bisa sepetak
Jangan rusak lagi tiap petak yang sudah ada

Beri mereka air bersih
Beri juga udara sehat
Mereka butuh hutan hijau 
Bukan hutan aspal, beton atau kaca
Apalagi S A M P A H

Berilah saja
Sebelum mereka haus lalu meminta
dan M A T I.

Jakarta 21 Oktober 2012
Lecon Alfate





 Ket. : Foto di ambil di daerah Hayam Wuruk, Jakarta Barat 

Rabu, 17 Oktober 2012

Dinamika Jakarta: Pak Yono

                          


Pak Yono, saya mengenalnya beberapa hari lalu di Taman Suropati Menteng, Jakarta Pusat. Umurnya sudah tidak muda lagi yaitu 65 tahun. Bapak sembilan anak satu cicit ini kesehariannya bekerja sebagai penjual tahu gejrot di Taman Suropati. Berawal dari keisengan saya nongkrong di taman itu, lelaki ini menarik perhatian saya dari sekian banyak penjual yang lalu lalang disitu. Beliau yang tertua persisnya.


Niat saya untuk berbincang singkat dengan beliau akhirnya kesampaian saat ia menghampiri saya untuk menawarkan jajanannya.
"Beli tahu neng?"
"Oh boleh pak, seporsi berapa?"
"Enam ribu. Makan sini apa bungkus?"
"Bungkus aja pak, buat orang rumah ntar"
"Pedes apa biasa neng?"
"Enaknya yang pedes deh pak, kayak idup saya," candaan saya berhasil mencetak senyum tipis dibibirnya. Yap, berhasil untuk pendekatan awal yang manis dengan beliau.

Dengan cekatan pak Yono mulai menyiapkan bumbu berupa bawang merah bawang putih plus cabai hijau lima biji yang selanjutnya diulek bersama campuran air gula merah. Ah baunya lumayan menghantam lambung. Daripada mikirin lambung lebih baik saya memulai investigasi pribadi dengannya.

Benar dugaan saya. pak Yono satu-satunya penjual lama yang masih bertahan di taman itu. Ia mulai menjajakan tahu gejrot di Taman Suropati sejak tahun 1997. Sebelumnya ia bekerja serabutan dengan berjualan kemoceng, sapu dan alat-alat rumah tangga lainnya. Pada saat krisis, usahanya ikut seret juga. Inilah yang membuat ia banting stir menjadi penjual tahu gejrot. Sehari biasanya ia mendapat untung bersih lima puluh ribu rupiah dari empat ratusan buah tahu yang dibawanya. Ia baru akan pulang setelah jam empat subuh ke kosannya yang tidak jauh dari taman. Keluarganya tetap menetap di Cirebon selagi ia mencari nafkah di Jakarta.


Dinamika kehidupan begini memang sudah lazim di Jakarta. Namun setiap mata saya melihat, selalu terbersit mimpi agar jangan lagi ada pemandangan seperti ini. Sebuah dunia yang setara, sejahtera dan bahagia tanpa perlu ada beban di pundak.

Pak Yono... teruslah berjuang.

Jumat, 05 Oktober 2012

Anugerah Pewarta Foto (APFI) 2011

Acara tahunan bergengsi Anugerah Pewarta Foto (APFI) 2011 kembali digelar. Berlokasi di Kuningan City, Jakarta. Sebanyak 3.371 foto dari 258 Pewarta Foto seluruh Indonesia dan 76 peserta Citizen Jurnalism bersaing memperebutkan gelar prestisius APFI Photo of The Year. Ajang apresiasi bagi pewarta foto Indonesia ini digelar untuk ketiga kalinya, menyusul suksesnya APFI 2010 dan 2011 yang membangkitkan semangat dunia fotografi di Indonesia, serta membuat fotografi jurnalistik semakin membumi dan akrab di setiap kalangan.

Ada sembilan kategori untuk APFI 2011, diantaranya Daily Life, General News, Spot News, People in The News, Sport, Art and Entertainment, Nature and Environment, Photo Essay, dan Citizen Journalism. Di luar kategori-kategori tersebut, panitia juga memberikan dua penghargaan prestisius lain, yaitu Photo of the Year dan Life Time Achiefment (LTA). LTA diberikan bagi individu yang dianggap berjasa dalam kemajuan foto jurnalistik di Indonesia. 

Para juri yang terlibat dalam APFI 2011 adalah Kemal Jufri (Imaji), Beawiharta (Reuters), Hariyanto (Media Indonesia), Eddy Hasby (Kompas), dan Maha Eka Swasta (Antara Foto). Acara tersebut juga dimeriahkan oleh penampilan Oppie Andaresta, Aldi Taher, Sarwana, dan Ratna Listy. 

Inilah para pemenang APFI 2011 :
Pemenang untuk kategori “General News” adalah Kristianto Purnomo, kategori “Spot News” diraih M Agung Rajasa, kategori “People In The News” diraih Yosep Arkian, kategori “Nature and Environment” diraih Susanto, kategori “Sport” diraih Jessica Margaretha, kategori “Arts and Entertainment” diraih Rommy Pujianto, kategori “Daily Life” diraih M Agung Rajasa, kategori “Photo Essay” diraih Sihol Sitanggang dan kategori “Citizen Journalist” diraih Mochamad Rizki.


Inilah beberapa seri foto yang saya rekam sewaktu mengikuti acara tersebut.
























Minggu, 30 September 2012

Roni, Dinda dan Saiful : Keceriaan Tanpa Batas


"Iiii ada yang poto tuh Din," spontan Roni memanggil Dinda saat melihat lensa kamera saya membidik ke arah mereka.
Dua menit kemudian Saiful, yang terkecil diantara mereka memanggil saya,
"Kak poto lagi dong," ujarnya dengan gaya cadel anak-anak.

Mereka adalah Roni (7thn), Dinda (5thn) dan Saiful (3thn). Bocah-bocah manis ini adalah anak Bunda Mar, seorang wanita paruh baya pekerja serabutan yang sedang diminta jasanya oleh ibu kosku untuk menyetrika pakaian siang tadi (30/9/2012). Kali ini Bunda Mar diberi upah lima puluh ribu rupiah untuk dua keranjang besar penuh pakaian. Bunda Mar sendiri tinggal di gang pojong daerah Pasar Baru, Jakarta.

Sambil ibunya menyetrika, mereka bertiga nampak asik bermain di halaman kosku. Jendela kamarku persis berhadapan dengan halaman. Hal ini membuat naluri memotret tersentak saat menyaksikan mereka sibuk dengan dunianya sendiri. Tak mau ketinggalan, langsung kuambil DSLR Sony a230 yang sedang terpasang lensa 70-300 dan jepret-jepret...jepret lagi!

Jepretan berikut, aksi candid-ku tertangkap oleh Roni. Untungnya mereka mau difoto lagi. Bahkan tidak enggan Saiful kecil berlari masuk ke kamarku untuk melihat hasil jepretan tadi.
Setelah itu, mereka malah meminta difoto lagi tanpa kutawari. Aiiih senangnya....

Dan inilah bebarapa seri keceriaan mereka bertiga yang sempat kurekam.
Anak-anak ini... entah bagaimana, dengan aura kepolosan mereka, membangkitkan semangat dan keceriaanku juga. Senangnya jika bisa kembali ke dunia anak-anak :)













Jumat, 11 Mei 2012

Averte Paulisper Lumina


: Matikan Lampunya Sejenak

Ya terkadang kau tidak mengerti semua yang terjadi
hanya dengan melihat dan merasakan
kau mempertimbangkan semua di otakmu tapi itu tidaklah cukup
tidak cukup untuk mengerti apa yang sedang terjadi
apa yang kau rasakan
dan apa yang kau harapkan

Ketika kenyataan berbenturan dengan mimpi
hanya kau yang tahu seberapa inginmu menemukan muara terakhir 
dari kolaborasi dunia yang mengecewakan
ingin itu membunuhmu
memaksamu mengejar setiap gejolak yang tertahan
hasrat yang penuh debur
seakan kau tidak akan hidup esok

Kau melihat kacamata yang tak bisa kau lihat 
hanya dengan bantuan hanya dua bola matamu
haruskah kau berlari mengejar itu
atau kau biaskan seolah tepi yang tak perlu menjadi pegangan
tahulah rasa seperti apa
pengabaian sensasi
fantasi terselubung
mamadatkan kemurkaan tidak puas alam
manusia yang tidak hendak menunggu
kau bergerak
celakanya kaulah gerakan tanpa arah
kepercayaanmu hanya pada angin
dan angin tak peduli
kau diam
saat itu kau mengerti arti kata 
h a m p a

Selamat...
Averte Paulisper Lumina
Matikan Lampunya Sejenak 




Senin, 07 Mei 2012

Teknologi Hati


“Aku gak punya pulsaaaaa…”

Melintas lagi di benak Lyan bunyi iklan sebuah provider yang sedang heboh-hebohnya di televisi.
“Apa-apaan si Ryan? Masa perasaan diukur pake hal gituan. Gak ngangkat telpon, SMS gak dibalas, gak re-tweet balik, foto berdua kemarin belum diupload. Grrrrr… besok-besok gak update anti virus pasti dibilang udah gak cinta!!” gerutu Lyan mengingat kelakuan kekasihnya.

“Lyaaaan ada telepon dari Ryan,” teriak mama dari ruang tengah.
“Iyaaa, Ma, Lyan dengar. Bilangin Lyan lagi beli sayur di Arab!” sambung Lyan penuh emosi.
“Ni makhluk emang rese. Gak hape gak telepon rumah semua dijabanin. Lama-lama telegram dikirim juga. Ah, dasar Ryan sarap!!” Lyan membatin bercampur amarah.

***

“Cut my life into pieces this is my last resort…” Handphone Lyan bordering SMS.
“Kenapa telpon gue gak diangkat sayaaaaang?? Kamu mulai aneh akhir-akhir ini. Bener dong kata Sam kalau kamu lagi jalan sama managermu di kantor kan? Atau udah nemu yang baru??”
Sms dari Ryan berhasil membuat amarah Lyan benar-benar meledak. Secepat kilat dibalasnya ketus. “Nomor yang anda tuju sedang di rumah sakit bersalin!” Sedetik selesai laporan terkirim handphone Lyan langsung dinon-aktifkan.

***

“Nona Lyan yang berbahagia, selamat Anda memenangkan Nobel kategori  sukses dihubungi melalui tatap muka. Ke depannya bisakah Nona memanfaatkan semua teknologi komunikasi yang sudah diwariskan pendahulu kita?” Suara bosnya dari seberang pintu mengagetkan Lyan yang baru saja sampai kantor.

“Data recovery property kita sudah dikirim Nona Lyan? Klien kita menelpon katanya belum menerima email apapun. Seharusnya Nona tahu jika perusahaan kita bekerja di bidang jasa dan barang yang membutuhkan pelayanan prima, karena jika tidak…”
“Baik, baik, Pak,” potong Lyan sebelum Lyan mendapat tambahan 3 SKS pagi itu. “Secepatnya, saya kirim sekarang,” sambung Lyan.
“Dan dalam tiga menit data itu sudah mereka terima!” tandas Pak Bos sambil belalu keluar ruangan.
“Siap komandante! Emm, Pak?”
“Apa lagi??”
“Sebaiknya Bapak belajar ilmu telepati jika ingin menghubungi saya…”
“Usul yang sempurna. Sekalian kantor kita buka cabang perdukunan Nona Lyan! Dan sebaiknya usul itu juga Nona sampaikan ke tunangan Nona itu yang lima kali sedetik menghubungi operator kantor!!”

***

Sambil memainkan kakinya di kursi kantor Lyan berpikir keras bagaimana harus membalas setiap interogasi dari Ryan nantinya. Seharian kemarin ia mematikan handphone, mengisolasi diri dari dunia maya dan semua yang berhubungan dengan komunikasinya dengan Ryan.

Akhirnya Lyan mencoba menonaktifkan handphone-nya. Baru semenit sudah 13 pesan. Sedikit menunggu lagi dan total 28 SMS atas nama Ryan.
“Dasar ya orang matematis, kalau bilangan genap tanggung amat cuman 28…” celoteh Lyan dalam hati.

Dibukanya pesan pertama…kedua…ketiga…
“Busyet ini SMS atau berita acara perkara nih?” dengan malas-malasan Lyan membaca SMS itu.
“Kasihan inbox gue, gak bisa langsing kalo penuh gini!” Tanpa membaca pesan selanjutnya Lyan menghapus semua isi kotak masuk di handphone-nya.

***

“Ryan, kita itu sudah tunangan…” Lyan membuka percakapan di malam itu, setelah tiga hari dia berupaya keras menghindari Ryan agar Ryan sadar bahwa dirinya murka dengan sifat posesif Ryan yang makin menjadi.

“Kamu tahu apa pendapatku tentang hubungan kita sekarang?” lanjut Lyan

“Oh, kamu mau bilang kita finish begitu? Betul kan dugaanku, kamu memang berubah. Benar juga soal manajermu itu kan? Tiga hari ini pasti kamu jalan sama dia!” Ryan mulai memberondong tunangannya.

“Cukup! Kamu dengar apa kataku tadi? Kita ini tunangan Ryan! Bukan begitu caramu memperlakukan tunanganmu. Kamu tahu, aku seolah-olah pacaran dengan teroris!” Sedetik kemudian Lyan sadar emosinya mulai muncul, harus diredam. Niatnya ingin bicara baik-baik.

“Seberapa besar kamu mempercayai aku?” lanjut Lyan.
“Aku percaya,” jawab Ryan singkat.
“Seberapa besar?”
“Besar.”
“Kalau begitu berhentilah bertingkah seolah-olah aku satu-satunya makhluk di bumi ini yang wajib dimata-matai. Berhenti menelpon dengan intensitas di luar batas. Berhenti menjamuku dengan pertanyaan mendakwa kayak ‘kata Sam, kamu begini ya?’  Terus kalau udah dikasih tau juga nanya lagi pertanyaan yang sama dalam waktu yang nggak kurang dari lima menit. Nanya itu wajar, tapi nggak nanya lagi kan?” panjang lebar Lyan menjelaskan ketidakpuasannya.

“Fine, berulang kali juga aku bilang ke kamu, aku bukan seperti pria lain. Aku beda. Tingkat perhatianku lebih tinggi, juga aku cemburuan. Aku berusaha jaga komunikasi karena kita sama-sama sibuk tapi kamu sama sekali tidak merespon itu. Coba pikir, kenapa aku harus sibuk mendengarkan omongan Sam dan lainnya? Karena kamu seperti alien, susah diajak kompromi dan aku jadi begini juga karena kamu, kamu yang membuat aku begitu sayang sampai aku harus seperti itu. Apa itu salah lagi?” bantah Ryan tak mau kalah.

“Semua itu membuat aku tidak nyaman. Aku menghargai pertunangan kita, dan tolong pikir baik-baik jika masih ingin melanjutkannya. Aku ngantuk, mau tidur,” sia-sia saja Lyan mengumpulkan kekuatannya untuk bicara toh Ryan tetap sama. Sebaiknya tidak disambung lagi sebelum emosinya yang bicara.

***

“Ya, emang aku jalan sama temen kenapa? Salah? Kalau aku bilang ke kamu memang kamu bakal ngijinin??”

Kegaduhan di meja sebelah cukup mengusik ketenangan Lyan di kedai kopi sebuah pusat perbelanjaan sore itu. Sepasang remaja usia belasan sedang bertengkar.

Kata-kata itu membuat alam bawah sadar kembali membawa Lyan mengenang Ryan, sosok tunangannya yang dulu tak jauh beda dengan remaja itu. Seusai pembicaraan mereka malam itu, Ryan menjadi frustrasi dan nekat menenggak pil tidur dalam jumlah banyak.

Lyan lalu mengambil handphone kemudian membuka pesan tersimpan.
“Kamu yang membuat aku begitu sayang…”
SMS terakhir Ryan sebelum ia tidur selamanya, tiga tahun yang lalu…

****

Sebuah Cerpen Kolaborasi Lecon & MPA yang diikutsertakan dalam Kolaborasi Cerpen Valentine Februari 2012

Kamis, 12 April 2012

Bigger Stronger



: Aceh Nangroe Darussalam


Apakah mata akan kau katakan tak tertolong
Apabila dari mereka tercurah air mata?
Apakah hati akan kau katakan tak terjaga
Apabila kau mendapatinya berkeping-keping?

Karena tak lagi selalu kedukaan
Akan kita rayakan dengan tetes air mata
Dan tak juga selalu kekecewaan
Akan kita lantunkan dengan rerintihan

Bahwa kita mulai lebih menyukai diam ini
Daripada sorak sorai yang kemarin
Dan kebahagiaan tetaplah sama
Seperti dulu, "Tuhan ada di hal-hal sederhana."

Melalui semua ini aku belajar
Tangan yang mengasihi terkadang menghajar
Dan aku tahu, itu bukan untuk melukai
Tetapi menjadikannya lebih besar dan kokoh


Mazmur Prasetya Aji_130412

Selasa, 10 April 2012

Happy Belated Day to Me - My Self - and I


*teplok teplok suit swuitttt*

          

          Sebenarnya masih kurang sepersekian menit menuju teng genap 26 tahun saya bernafas, tapi saya sudah mulai menulis dengan perhitungan saat nanti selesai tulisan ini, waktu setempat telah menunjukkan pukul 00.00 wita. 
Memang terkesan sedikit narsis dan memaksakan diri *hadeh penting gak seh* tapi inilah saat yang paling ampuh untuk memberi ruang kepada Me mengapresiasi My Self yang sudah selama 26 tahun berdampingan mesra dengan I (nah lho bingung kan?! hehe drita lo)

Saya membagi kategori saya dalam tiga komponen yaitu Me - My Self - I. Ada baiknya saya sendiri yang membahas tentang diri saya (nunggu dibahas DPR lama euy!)

  • ME
        Me adalah saya, dengan nama panjang Lely Taolin dan silahkan dipendekin sendiri untuk nama bekennya. Me sering dipanggil miss Lecon oleh spesies sekeliling yang konon katanya singkatan dari 'Lely Konyol' - pemberian nama mulia oleh teman kosan dulu. Nama itu bukannya tanpa sebab karena menurut mereka, kata konyol sudah cukup menggambarkan sedikit dari banyak perilaku Me yang ajaib dimata mereka sampai terkadang saya bingung mengapa Me menjadi begitu fantastis, bombastis, menggelora dan berapi-api bahkan sampai menyebabkan terjadinya kebakaran dalam skala besar (jyaaaah! tolong ingatkan jika saya mulai merancu). 
       Jadi ceritanya pernah ada kejadian semasa masih jadi ABK dulu (anak baru kuliahan), Me berakting pingsan persis hari pertama masa ospek kampus dan berhasil menarik 3 juta simpatik saat itu *toweweng*. Malamnya saat sesi keterbukaan di kos, barulah Me mengaku dengan segenap kekuatan yang dikumpulkan bahwa ikhwal kejadian itu hanya karena Me mengantuk blom tidur seharian plus mumet meladeni pertanyaan tentang komodo dari beberapa kawula muda Bali sehingga memaksa adrenalin Me untuk total berakting jatuh di lapangan lalu digotong keluar. As simple as begituuuu mangkenye Me become a superstar buat pak satpam seharian penuh tuh.
       Nah kembali lagi ke soal komodo, dari awal memang Me terinspirasi dengan Dragon Ball jadi tiap kali ditanya tentang komodo, Me dengan cuek menjawab, "Kalau ke pulau komodo harus serba hati-hati soalnya radius 500 meter komodo bisa mengeluarkan semburan api yang dasyat...!". 
Lha ajaibnya mereka malah percaya dan makin penasaran. Jadilah pertanyaan yang muncul udah kayak aer terjun Bengawan Solo (ude ngangguk aja gak usah protes). Nah skarang siapa yang konyol hayooo, Me atau...? *kabuuuuuurrr before disambit pentolan bakso*
Maka terjadilah kesepakatan untuk memberi Me identitas atas nama Lecon oleh para tetua adat semester yang mendiami kosan kala itu. Saat ini nama itu masih terus dikumandangkan para jurnalis majalah Time is up!

  • MY SELF
       Next, My Self adalah tetap saya dengan tubuh tinggi yang kurang semampai, berbicara minus huruf 'R', wajah oval dan mata indah setajam sikat gigi, senyum manis yang mengguncang para balita, plus kata orang My Self itu kurus tapi bagi saya body seperti itu dinamakan pro-por-sio-nal karena hasil kali bagi berat dan tinggi badan masih dalam angka normal. Jadi tolong dikaji ulang bagi semua makhluk yang mem-push saya dengan keras guna mengkonsumsi segala jenis makanan, plis My Self bukan omnivora. My Self cuman pengkonsumsi makanan enak dan gratisss, kalau bisa skalian bungkus dua!! itu aja apa susahnya?
       Pada akhirnya saya sangat bangga dengan pemberian Tuhan untuk My Self, yeah sungguh-sungguh sempurna dimata saya. My Self sampai saat ini selalu mampu melewati ambang batas keterpurukan ditengah makhluk cakep - setengah cakep - ataupun keren gila. 
Saya selalu percaya My Self trully a Gift from God ^^. 

  • I
       Beuh kalau masuk ke ranah ini, saya sedikit tergoda untuk berbicara lebay karena cuman kacamata saya yang berfungsi melihat kedalaman I disni. I adalah sosok yang sangat mencintai ketenangan, kegembiraan, senyum diwajah orang yang dikenal ataupun tidak. 
      I adalah pribadi yang lembut tapi juga seorang fighter yang berbobot. I tidak bisa melihat ketidakadilan dan kesusahan disekelilingnya, I murah hati sampai sering ditawar diskon 70+30%. Soal berkorban jangan ditanya, I berani sekali berkorban apa saja yang dimilikinya asal bisa membantu orang yang sedang membutuhkan. I ingin selalu dipenuhi cinta dan perhatian walaupun susah baginya untuk memberikan feedback lagi. 
      Namun harus diakui I sering sekali egois, angkuh pada level tertentu, pantang tersaingi dan merasa kehilangan (ancur banget), juga menjadi tidak pemaaf di situasi tertentu. Dalam bahasa ringkas, I itu pendendam dan penjaga wibawa dengan cara-cara yang cantik. I punya kharisma untuk menyedot perhatian karena I percaya semua pasti bisa diselesaikan.
      Segala yang berurusan dengan asmara I rapuh. Tapi I punya potensi besar untuk segera bangkit lagi. Kurang lebihnya I adalah kekuatan yang sesungguhnya.
I kuat dengan kelemahan dan semakin kuat dalam kelebihan. Hanya butuh banyak diasah agar I peka.

Finally, inilah Saya dengan ketiga pasukan pertahanan oksigen.
Usia 26 tahun hanyalah angka, tapi dalam angka itu saya berusaha mengisinya dengan angka perubahan diri yang semakin tinggi. 
Setiap usia ada harganya dan di usia saya kali ini, harga yang ingin saya berikan adalah "Jangan biarkan setiap waktu berlalu begitu saja".
Terima kasih untuk 25 tahun kemarin, Me-My Self-I silahkan atur 26 tahun kedepan.
 

Dengan kuasaNya, saya akan terus belajar memaknai tiap detil waktu berjalan... sampai usai usia




Minggu, 12 Februari 2012

First Lady China, Madame Mao


Di balik seorang lelaki hebat, selalu ada perempuan yang lebih hebat. Saya percaya betul dengan kalimat itu. Ingat bagaimana mendiang Bu Tien diyakini sebagai otak di balik layar kesuksesan seorang Soeharto di masanya.


Yang lebih jelas lagi adalah bagaimana Jiang Ching berdiri tegar di samping seorang Mao Tse Tung, tokoh sosialis Cina yang menjadi legenda sepanjang masa.
Membaca buku Madame Mao karya Anchee Min membawa kita ke kisah perjuangan jatuh bangun seorang perempuan. Bukan hanya dari nol, melainkan minus, Jiang Ching yang terlahir sebagai Yunhee berjuang keras mewujudkan mimpi-mimpinya untuk menjadi ayam merak di antara ayam betina biasa. Bahkan di luar dugaan ia menjadi burung cendrawasih saat berhasil menjadi First Lady Cina.


Awalnya saya pribadi agak meremehkan pribadi Madame Mao yang bisa dikatakan lemah dalam menghadapi lelaki dalam urusan romantisme. Bagaimana tidak, sebelum menikah dengan Mao, perempuan asal Shangdong itu sempat tiga kali menikah. Ia terobsesi dengan keinginan menjadi artis opera dan film, hingga jatuh ke satu pelukan lelaki yang satu ke yang lain. Maaf, untuk hal satu ini saya sama sekali tidak simpati.


Namun seiring pengalaman pahitnya, Jiang Ching mampu mengontrol diri. Keputusan paling berarti dalam mengubah hidupnya adalah saat ia bertekad untuk gabung dengan gerakan komunis Cina. Ia meninggalkan gemerlap Shanghai menuju Yenan, provinsi miskin tempat dimana Mao merintis perjuangan komunisnya. Di sinilah titik pertemuan mereka.


Menikahi seorang pemimpin sebesar Mao bukan perkara mudah. Jiang Ching harus mematuhi aturan ia tak boleh tampil bersama di depan umum di awal perjuangan mereka. Ia tak boleh ikut campur urusan politik walau dipanggil sebagai "komrad". Padahal ia lah yang terlibat diskusi non formal bersama Mao. Ia lah yang mempengaruhi begitu banyak keputusan si pemimpin besar itu. "Aku melakukan semuanya tapi sekaligus juga aku tidak ada," tutur Madame Mao. Dalam hati kecilnya ia merasa iri dengan istri-istri petinggi lain yang sangat dimanjakan suaminya.


Yang mengenaskan adalah ulah Mao berganti-ganti teman tidur sampai terkena spilis. Jiang sebagai istrinya sendiri lah yang setengah mati berkeras agar Mao diobati agar tidak menularkan penyakit itu ke perempuan lain.

Demi menghibur diri, Jiang Ching kembali menghidupkan gerakan kesenian opera yang sempat jadi dunianya di masa muda. Operanya kali ini berbau propaganda Maoisme. Ia juga diam-diam menggalang kekuatan bersama mahasiswa dibantu orang kepercayaannya, Kang Sheng. Kabarnya Jiang juga melakukan serangkaian aksi kekerasan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang pernah menghinanya di masa lalu. Salah satunya adalah Dan, aktor idola di masa Jiang muda yang pernah menolak cintanya.


Siapa kira justru penderitaan dan perjuangan Jiang Ching jauh lebih berat dari Mao sang suami. Setelah meninggalnya Mao pada Oktober 1976, Jiang dipenjara. Sempat juga "dibuang" ke Soviet. Ia masih membela mati-matian idealisme almarhum suaminya sampai terkenal dengan ucapannya: "Saya adalah anjingnya Mao, saya menggigit siapa saja yang diperintahkannya."


Pada usia 77 tahun, perempuan yang sejak gadis ditinggalkan oleh ibunya itu menggantung dirinya sampai mati.


Tragis, atau ironis?


Maaf, tanpa mengurangi hormat kepada almarhum, saya tidak ingin seperti Madame Mao. Paparan saya ini hanya sekadar penggambaran bagaimana seorang perempuan hebat selalu bersanding dengan lelaki hebat. Tapi saya pribadi memilih tak bersanding dengan siapapun daripada harus hidup dan mati konyol. Hmm kecuali jika ada cinta yang mampu membutakan saya.




*Milis Teman, http://revolusihidup.blogspot.com/2007/12/madame-mao-merak-di-antara-ayam-betina.html