Tampilkan postingan dengan label Berjuang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berjuang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 November 2012

Sang Maestro Symmetria


NYA punya senjata
Keindahan namanya
mengalun
meresap
merasa
indah begitu saja

Bukan seolah
aku terbawa
tanpa paksaan
untuk sesuatu yang tak berbahasa
indah tahu harus kemana
ke tempat leluhurnya menetap
kecuali dagingku sendiri yang menolak
tatkala indah berdenting

Terima kasih
untuk simfoni
citra rasa karsa
untuk keindahan
aku terbius
ia merasuk
aku terilhami
ia menyebar
aku menyenangkan
ia menenangkan
aku mengukir senyum
ia membentuk jiwa
oh.... kami tergeletak diam
diam-diam pula mengakui pekerjaan yang Empunya
kembali ku sanjung Sang Maestro

NYA sungguh indah
dan kusebut NYA,
Segala Kebaikan

Lecon Alfate, Pasar Baru 28.11.2012


              **Sebuah catatan lepas dengan niat mengekspresikan syukur bagiNya, sambil bergema adzan sholat subuh dari Masjid Assyafiyah yang letaknya persis samping kosan saya plus ditemani  alunan Kitaro-Thinking of You menambah hikmatNya bagi saya.
             Symmetria sendiri adalah istilah bangsa Yunani untuk menyebut keindahan dalam arti luas, yang  berdasarkan penglihatan (karya pahat, lukis dan arsitektur) dan pendengaran (musik dan syair). Pengertian keindahan meliputi keindahan seni, keindahan alam, moral dan keindahan intelektual.
             Entah bagaimana cara kerjaNya, ada titik dimana saya benar-benar menikmati hirupan nafas demi nafas, seperti jadi melodi terima kasih bagiNya. 
Seperti saat ini, saat dimana saya mengerjakan presentase laporan, sambil editorial foto, sambil mendesign kartu pos tahun baru 2013, sambil juga menulis keindahanNya yang tiada tara.
Segala Kebaikan sungguh mengilhami saya akan segala kebaikan 
*ambil posisi berdoa :) 




.

Rabu, 17 Oktober 2012

Dinamika Jakarta: Pak Yono

                          


Pak Yono, saya mengenalnya beberapa hari lalu di Taman Suropati Menteng, Jakarta Pusat. Umurnya sudah tidak muda lagi yaitu 65 tahun. Bapak sembilan anak satu cicit ini kesehariannya bekerja sebagai penjual tahu gejrot di Taman Suropati. Berawal dari keisengan saya nongkrong di taman itu, lelaki ini menarik perhatian saya dari sekian banyak penjual yang lalu lalang disitu. Beliau yang tertua persisnya.


Niat saya untuk berbincang singkat dengan beliau akhirnya kesampaian saat ia menghampiri saya untuk menawarkan jajanannya.
"Beli tahu neng?"
"Oh boleh pak, seporsi berapa?"
"Enam ribu. Makan sini apa bungkus?"
"Bungkus aja pak, buat orang rumah ntar"
"Pedes apa biasa neng?"
"Enaknya yang pedes deh pak, kayak idup saya," candaan saya berhasil mencetak senyum tipis dibibirnya. Yap, berhasil untuk pendekatan awal yang manis dengan beliau.

Dengan cekatan pak Yono mulai menyiapkan bumbu berupa bawang merah bawang putih plus cabai hijau lima biji yang selanjutnya diulek bersama campuran air gula merah. Ah baunya lumayan menghantam lambung. Daripada mikirin lambung lebih baik saya memulai investigasi pribadi dengannya.

Benar dugaan saya. pak Yono satu-satunya penjual lama yang masih bertahan di taman itu. Ia mulai menjajakan tahu gejrot di Taman Suropati sejak tahun 1997. Sebelumnya ia bekerja serabutan dengan berjualan kemoceng, sapu dan alat-alat rumah tangga lainnya. Pada saat krisis, usahanya ikut seret juga. Inilah yang membuat ia banting stir menjadi penjual tahu gejrot. Sehari biasanya ia mendapat untung bersih lima puluh ribu rupiah dari empat ratusan buah tahu yang dibawanya. Ia baru akan pulang setelah jam empat subuh ke kosannya yang tidak jauh dari taman. Keluarganya tetap menetap di Cirebon selagi ia mencari nafkah di Jakarta.


Dinamika kehidupan begini memang sudah lazim di Jakarta. Namun setiap mata saya melihat, selalu terbersit mimpi agar jangan lagi ada pemandangan seperti ini. Sebuah dunia yang setara, sejahtera dan bahagia tanpa perlu ada beban di pundak.

Pak Yono... teruslah berjuang.