Jumat, 11 Mei 2012

Averte Paulisper Lumina


: Matikan Lampunya Sejenak

Ya terkadang kau tidak mengerti semua yang terjadi
hanya dengan melihat dan merasakan
kau mempertimbangkan semua di otakmu tapi itu tidaklah cukup
tidak cukup untuk mengerti apa yang sedang terjadi
apa yang kau rasakan
dan apa yang kau harapkan

Ketika kenyataan berbenturan dengan mimpi
hanya kau yang tahu seberapa inginmu menemukan muara terakhir 
dari kolaborasi dunia yang mengecewakan
ingin itu membunuhmu
memaksamu mengejar setiap gejolak yang tertahan
hasrat yang penuh debur
seakan kau tidak akan hidup esok

Kau melihat kacamata yang tak bisa kau lihat 
hanya dengan bantuan hanya dua bola matamu
haruskah kau berlari mengejar itu
atau kau biaskan seolah tepi yang tak perlu menjadi pegangan
tahulah rasa seperti apa
pengabaian sensasi
fantasi terselubung
mamadatkan kemurkaan tidak puas alam
manusia yang tidak hendak menunggu
kau bergerak
celakanya kaulah gerakan tanpa arah
kepercayaanmu hanya pada angin
dan angin tak peduli
kau diam
saat itu kau mengerti arti kata 
h a m p a

Selamat...
Averte Paulisper Lumina
Matikan Lampunya Sejenak 




Senin, 07 Mei 2012

Teknologi Hati


“Aku gak punya pulsaaaaa…”

Melintas lagi di benak Lyan bunyi iklan sebuah provider yang sedang heboh-hebohnya di televisi.
“Apa-apaan si Ryan? Masa perasaan diukur pake hal gituan. Gak ngangkat telpon, SMS gak dibalas, gak re-tweet balik, foto berdua kemarin belum diupload. Grrrrr… besok-besok gak update anti virus pasti dibilang udah gak cinta!!” gerutu Lyan mengingat kelakuan kekasihnya.

“Lyaaaan ada telepon dari Ryan,” teriak mama dari ruang tengah.
“Iyaaa, Ma, Lyan dengar. Bilangin Lyan lagi beli sayur di Arab!” sambung Lyan penuh emosi.
“Ni makhluk emang rese. Gak hape gak telepon rumah semua dijabanin. Lama-lama telegram dikirim juga. Ah, dasar Ryan sarap!!” Lyan membatin bercampur amarah.

***

“Cut my life into pieces this is my last resort…” Handphone Lyan bordering SMS.
“Kenapa telpon gue gak diangkat sayaaaaang?? Kamu mulai aneh akhir-akhir ini. Bener dong kata Sam kalau kamu lagi jalan sama managermu di kantor kan? Atau udah nemu yang baru??”
Sms dari Ryan berhasil membuat amarah Lyan benar-benar meledak. Secepat kilat dibalasnya ketus. “Nomor yang anda tuju sedang di rumah sakit bersalin!” Sedetik selesai laporan terkirim handphone Lyan langsung dinon-aktifkan.

***

“Nona Lyan yang berbahagia, selamat Anda memenangkan Nobel kategori  sukses dihubungi melalui tatap muka. Ke depannya bisakah Nona memanfaatkan semua teknologi komunikasi yang sudah diwariskan pendahulu kita?” Suara bosnya dari seberang pintu mengagetkan Lyan yang baru saja sampai kantor.

“Data recovery property kita sudah dikirim Nona Lyan? Klien kita menelpon katanya belum menerima email apapun. Seharusnya Nona tahu jika perusahaan kita bekerja di bidang jasa dan barang yang membutuhkan pelayanan prima, karena jika tidak…”
“Baik, baik, Pak,” potong Lyan sebelum Lyan mendapat tambahan 3 SKS pagi itu. “Secepatnya, saya kirim sekarang,” sambung Lyan.
“Dan dalam tiga menit data itu sudah mereka terima!” tandas Pak Bos sambil belalu keluar ruangan.
“Siap komandante! Emm, Pak?”
“Apa lagi??”
“Sebaiknya Bapak belajar ilmu telepati jika ingin menghubungi saya…”
“Usul yang sempurna. Sekalian kantor kita buka cabang perdukunan Nona Lyan! Dan sebaiknya usul itu juga Nona sampaikan ke tunangan Nona itu yang lima kali sedetik menghubungi operator kantor!!”

***

Sambil memainkan kakinya di kursi kantor Lyan berpikir keras bagaimana harus membalas setiap interogasi dari Ryan nantinya. Seharian kemarin ia mematikan handphone, mengisolasi diri dari dunia maya dan semua yang berhubungan dengan komunikasinya dengan Ryan.

Akhirnya Lyan mencoba menonaktifkan handphone-nya. Baru semenit sudah 13 pesan. Sedikit menunggu lagi dan total 28 SMS atas nama Ryan.
“Dasar ya orang matematis, kalau bilangan genap tanggung amat cuman 28…” celoteh Lyan dalam hati.

Dibukanya pesan pertama…kedua…ketiga…
“Busyet ini SMS atau berita acara perkara nih?” dengan malas-malasan Lyan membaca SMS itu.
“Kasihan inbox gue, gak bisa langsing kalo penuh gini!” Tanpa membaca pesan selanjutnya Lyan menghapus semua isi kotak masuk di handphone-nya.

***

“Ryan, kita itu sudah tunangan…” Lyan membuka percakapan di malam itu, setelah tiga hari dia berupaya keras menghindari Ryan agar Ryan sadar bahwa dirinya murka dengan sifat posesif Ryan yang makin menjadi.

“Kamu tahu apa pendapatku tentang hubungan kita sekarang?” lanjut Lyan

“Oh, kamu mau bilang kita finish begitu? Betul kan dugaanku, kamu memang berubah. Benar juga soal manajermu itu kan? Tiga hari ini pasti kamu jalan sama dia!” Ryan mulai memberondong tunangannya.

“Cukup! Kamu dengar apa kataku tadi? Kita ini tunangan Ryan! Bukan begitu caramu memperlakukan tunanganmu. Kamu tahu, aku seolah-olah pacaran dengan teroris!” Sedetik kemudian Lyan sadar emosinya mulai muncul, harus diredam. Niatnya ingin bicara baik-baik.

“Seberapa besar kamu mempercayai aku?” lanjut Lyan.
“Aku percaya,” jawab Ryan singkat.
“Seberapa besar?”
“Besar.”
“Kalau begitu berhentilah bertingkah seolah-olah aku satu-satunya makhluk di bumi ini yang wajib dimata-matai. Berhenti menelpon dengan intensitas di luar batas. Berhenti menjamuku dengan pertanyaan mendakwa kayak ‘kata Sam, kamu begini ya?’  Terus kalau udah dikasih tau juga nanya lagi pertanyaan yang sama dalam waktu yang nggak kurang dari lima menit. Nanya itu wajar, tapi nggak nanya lagi kan?” panjang lebar Lyan menjelaskan ketidakpuasannya.

“Fine, berulang kali juga aku bilang ke kamu, aku bukan seperti pria lain. Aku beda. Tingkat perhatianku lebih tinggi, juga aku cemburuan. Aku berusaha jaga komunikasi karena kita sama-sama sibuk tapi kamu sama sekali tidak merespon itu. Coba pikir, kenapa aku harus sibuk mendengarkan omongan Sam dan lainnya? Karena kamu seperti alien, susah diajak kompromi dan aku jadi begini juga karena kamu, kamu yang membuat aku begitu sayang sampai aku harus seperti itu. Apa itu salah lagi?” bantah Ryan tak mau kalah.

“Semua itu membuat aku tidak nyaman. Aku menghargai pertunangan kita, dan tolong pikir baik-baik jika masih ingin melanjutkannya. Aku ngantuk, mau tidur,” sia-sia saja Lyan mengumpulkan kekuatannya untuk bicara toh Ryan tetap sama. Sebaiknya tidak disambung lagi sebelum emosinya yang bicara.

***

“Ya, emang aku jalan sama temen kenapa? Salah? Kalau aku bilang ke kamu memang kamu bakal ngijinin??”

Kegaduhan di meja sebelah cukup mengusik ketenangan Lyan di kedai kopi sebuah pusat perbelanjaan sore itu. Sepasang remaja usia belasan sedang bertengkar.

Kata-kata itu membuat alam bawah sadar kembali membawa Lyan mengenang Ryan, sosok tunangannya yang dulu tak jauh beda dengan remaja itu. Seusai pembicaraan mereka malam itu, Ryan menjadi frustrasi dan nekat menenggak pil tidur dalam jumlah banyak.

Lyan lalu mengambil handphone kemudian membuka pesan tersimpan.
“Kamu yang membuat aku begitu sayang…”
SMS terakhir Ryan sebelum ia tidur selamanya, tiga tahun yang lalu…

****

Sebuah Cerpen Kolaborasi Lecon & MPA yang diikutsertakan dalam Kolaborasi Cerpen Valentine Februari 2012

Kamis, 12 April 2012

Bigger Stronger



: Aceh Nangroe Darussalam


Apakah mata akan kau katakan tak tertolong
Apabila dari mereka tercurah air mata?
Apakah hati akan kau katakan tak terjaga
Apabila kau mendapatinya berkeping-keping?

Karena tak lagi selalu kedukaan
Akan kita rayakan dengan tetes air mata
Dan tak juga selalu kekecewaan
Akan kita lantunkan dengan rerintihan

Bahwa kita mulai lebih menyukai diam ini
Daripada sorak sorai yang kemarin
Dan kebahagiaan tetaplah sama
Seperti dulu, "Tuhan ada di hal-hal sederhana."

Melalui semua ini aku belajar
Tangan yang mengasihi terkadang menghajar
Dan aku tahu, itu bukan untuk melukai
Tetapi menjadikannya lebih besar dan kokoh


Mazmur Prasetya Aji_130412

Selasa, 10 April 2012

Happy Belated Day to Me - My Self - and I


*teplok teplok suit swuitttt*

          

          Sebenarnya masih kurang sepersekian menit menuju teng genap 26 tahun saya bernafas, tapi saya sudah mulai menulis dengan perhitungan saat nanti selesai tulisan ini, waktu setempat telah menunjukkan pukul 00.00 wita. 
Memang terkesan sedikit narsis dan memaksakan diri *hadeh penting gak seh* tapi inilah saat yang paling ampuh untuk memberi ruang kepada Me mengapresiasi My Self yang sudah selama 26 tahun berdampingan mesra dengan I (nah lho bingung kan?! hehe drita lo)

Saya membagi kategori saya dalam tiga komponen yaitu Me - My Self - I. Ada baiknya saya sendiri yang membahas tentang diri saya (nunggu dibahas DPR lama euy!)

  • ME
        Me adalah saya, dengan nama panjang Lely Taolin dan silahkan dipendekin sendiri untuk nama bekennya. Me sering dipanggil miss Lecon oleh spesies sekeliling yang konon katanya singkatan dari 'Lely Konyol' - pemberian nama mulia oleh teman kosan dulu. Nama itu bukannya tanpa sebab karena menurut mereka, kata konyol sudah cukup menggambarkan sedikit dari banyak perilaku Me yang ajaib dimata mereka sampai terkadang saya bingung mengapa Me menjadi begitu fantastis, bombastis, menggelora dan berapi-api bahkan sampai menyebabkan terjadinya kebakaran dalam skala besar (jyaaaah! tolong ingatkan jika saya mulai merancu). 
       Jadi ceritanya pernah ada kejadian semasa masih jadi ABK dulu (anak baru kuliahan), Me berakting pingsan persis hari pertama masa ospek kampus dan berhasil menarik 3 juta simpatik saat itu *toweweng*. Malamnya saat sesi keterbukaan di kos, barulah Me mengaku dengan segenap kekuatan yang dikumpulkan bahwa ikhwal kejadian itu hanya karena Me mengantuk blom tidur seharian plus mumet meladeni pertanyaan tentang komodo dari beberapa kawula muda Bali sehingga memaksa adrenalin Me untuk total berakting jatuh di lapangan lalu digotong keluar. As simple as begituuuu mangkenye Me become a superstar buat pak satpam seharian penuh tuh.
       Nah kembali lagi ke soal komodo, dari awal memang Me terinspirasi dengan Dragon Ball jadi tiap kali ditanya tentang komodo, Me dengan cuek menjawab, "Kalau ke pulau komodo harus serba hati-hati soalnya radius 500 meter komodo bisa mengeluarkan semburan api yang dasyat...!". 
Lha ajaibnya mereka malah percaya dan makin penasaran. Jadilah pertanyaan yang muncul udah kayak aer terjun Bengawan Solo (ude ngangguk aja gak usah protes). Nah skarang siapa yang konyol hayooo, Me atau...? *kabuuuuuurrr before disambit pentolan bakso*
Maka terjadilah kesepakatan untuk memberi Me identitas atas nama Lecon oleh para tetua adat semester yang mendiami kosan kala itu. Saat ini nama itu masih terus dikumandangkan para jurnalis majalah Time is up!

  • MY SELF
       Next, My Self adalah tetap saya dengan tubuh tinggi yang kurang semampai, berbicara minus huruf 'R', wajah oval dan mata indah setajam sikat gigi, senyum manis yang mengguncang para balita, plus kata orang My Self itu kurus tapi bagi saya body seperti itu dinamakan pro-por-sio-nal karena hasil kali bagi berat dan tinggi badan masih dalam angka normal. Jadi tolong dikaji ulang bagi semua makhluk yang mem-push saya dengan keras guna mengkonsumsi segala jenis makanan, plis My Self bukan omnivora. My Self cuman pengkonsumsi makanan enak dan gratisss, kalau bisa skalian bungkus dua!! itu aja apa susahnya?
       Pada akhirnya saya sangat bangga dengan pemberian Tuhan untuk My Self, yeah sungguh-sungguh sempurna dimata saya. My Self sampai saat ini selalu mampu melewati ambang batas keterpurukan ditengah makhluk cakep - setengah cakep - ataupun keren gila. 
Saya selalu percaya My Self trully a Gift from God ^^. 

  • I
       Beuh kalau masuk ke ranah ini, saya sedikit tergoda untuk berbicara lebay karena cuman kacamata saya yang berfungsi melihat kedalaman I disni. I adalah sosok yang sangat mencintai ketenangan, kegembiraan, senyum diwajah orang yang dikenal ataupun tidak. 
      I adalah pribadi yang lembut tapi juga seorang fighter yang berbobot. I tidak bisa melihat ketidakadilan dan kesusahan disekelilingnya, I murah hati sampai sering ditawar diskon 70+30%. Soal berkorban jangan ditanya, I berani sekali berkorban apa saja yang dimilikinya asal bisa membantu orang yang sedang membutuhkan. I ingin selalu dipenuhi cinta dan perhatian walaupun susah baginya untuk memberikan feedback lagi. 
      Namun harus diakui I sering sekali egois, angkuh pada level tertentu, pantang tersaingi dan merasa kehilangan (ancur banget), juga menjadi tidak pemaaf di situasi tertentu. Dalam bahasa ringkas, I itu pendendam dan penjaga wibawa dengan cara-cara yang cantik. I punya kharisma untuk menyedot perhatian karena I percaya semua pasti bisa diselesaikan.
      Segala yang berurusan dengan asmara I rapuh. Tapi I punya potensi besar untuk segera bangkit lagi. Kurang lebihnya I adalah kekuatan yang sesungguhnya.
I kuat dengan kelemahan dan semakin kuat dalam kelebihan. Hanya butuh banyak diasah agar I peka.

Finally, inilah Saya dengan ketiga pasukan pertahanan oksigen.
Usia 26 tahun hanyalah angka, tapi dalam angka itu saya berusaha mengisinya dengan angka perubahan diri yang semakin tinggi. 
Setiap usia ada harganya dan di usia saya kali ini, harga yang ingin saya berikan adalah "Jangan biarkan setiap waktu berlalu begitu saja".
Terima kasih untuk 25 tahun kemarin, Me-My Self-I silahkan atur 26 tahun kedepan.
 

Dengan kuasaNya, saya akan terus belajar memaknai tiap detil waktu berjalan... sampai usai usia




Minggu, 12 Februari 2012

First Lady China, Madame Mao


Di balik seorang lelaki hebat, selalu ada perempuan yang lebih hebat. Saya percaya betul dengan kalimat itu. Ingat bagaimana mendiang Bu Tien diyakini sebagai otak di balik layar kesuksesan seorang Soeharto di masanya.


Yang lebih jelas lagi adalah bagaimana Jiang Ching berdiri tegar di samping seorang Mao Tse Tung, tokoh sosialis Cina yang menjadi legenda sepanjang masa.
Membaca buku Madame Mao karya Anchee Min membawa kita ke kisah perjuangan jatuh bangun seorang perempuan. Bukan hanya dari nol, melainkan minus, Jiang Ching yang terlahir sebagai Yunhee berjuang keras mewujudkan mimpi-mimpinya untuk menjadi ayam merak di antara ayam betina biasa. Bahkan di luar dugaan ia menjadi burung cendrawasih saat berhasil menjadi First Lady Cina.


Awalnya saya pribadi agak meremehkan pribadi Madame Mao yang bisa dikatakan lemah dalam menghadapi lelaki dalam urusan romantisme. Bagaimana tidak, sebelum menikah dengan Mao, perempuan asal Shangdong itu sempat tiga kali menikah. Ia terobsesi dengan keinginan menjadi artis opera dan film, hingga jatuh ke satu pelukan lelaki yang satu ke yang lain. Maaf, untuk hal satu ini saya sama sekali tidak simpati.


Namun seiring pengalaman pahitnya, Jiang Ching mampu mengontrol diri. Keputusan paling berarti dalam mengubah hidupnya adalah saat ia bertekad untuk gabung dengan gerakan komunis Cina. Ia meninggalkan gemerlap Shanghai menuju Yenan, provinsi miskin tempat dimana Mao merintis perjuangan komunisnya. Di sinilah titik pertemuan mereka.


Menikahi seorang pemimpin sebesar Mao bukan perkara mudah. Jiang Ching harus mematuhi aturan ia tak boleh tampil bersama di depan umum di awal perjuangan mereka. Ia tak boleh ikut campur urusan politik walau dipanggil sebagai "komrad". Padahal ia lah yang terlibat diskusi non formal bersama Mao. Ia lah yang mempengaruhi begitu banyak keputusan si pemimpin besar itu. "Aku melakukan semuanya tapi sekaligus juga aku tidak ada," tutur Madame Mao. Dalam hati kecilnya ia merasa iri dengan istri-istri petinggi lain yang sangat dimanjakan suaminya.


Yang mengenaskan adalah ulah Mao berganti-ganti teman tidur sampai terkena spilis. Jiang sebagai istrinya sendiri lah yang setengah mati berkeras agar Mao diobati agar tidak menularkan penyakit itu ke perempuan lain.

Demi menghibur diri, Jiang Ching kembali menghidupkan gerakan kesenian opera yang sempat jadi dunianya di masa muda. Operanya kali ini berbau propaganda Maoisme. Ia juga diam-diam menggalang kekuatan bersama mahasiswa dibantu orang kepercayaannya, Kang Sheng. Kabarnya Jiang juga melakukan serangkaian aksi kekerasan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang pernah menghinanya di masa lalu. Salah satunya adalah Dan, aktor idola di masa Jiang muda yang pernah menolak cintanya.


Siapa kira justru penderitaan dan perjuangan Jiang Ching jauh lebih berat dari Mao sang suami. Setelah meninggalnya Mao pada Oktober 1976, Jiang dipenjara. Sempat juga "dibuang" ke Soviet. Ia masih membela mati-matian idealisme almarhum suaminya sampai terkenal dengan ucapannya: "Saya adalah anjingnya Mao, saya menggigit siapa saja yang diperintahkannya."


Pada usia 77 tahun, perempuan yang sejak gadis ditinggalkan oleh ibunya itu menggantung dirinya sampai mati.


Tragis, atau ironis?


Maaf, tanpa mengurangi hormat kepada almarhum, saya tidak ingin seperti Madame Mao. Paparan saya ini hanya sekadar penggambaran bagaimana seorang perempuan hebat selalu bersanding dengan lelaki hebat. Tapi saya pribadi memilih tak bersanding dengan siapapun daripada harus hidup dan mati konyol. Hmm kecuali jika ada cinta yang mampu membutakan saya.




*Milis Teman, http://revolusihidup.blogspot.com/2007/12/madame-mao-merak-di-antara-ayam-betina.html

Sabtu, 15 Oktober 2011

3 Pertanyaan Seorang Atheis


Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri Sam kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, siapapun yang boleh menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.


“Anda siapa? Dan apakah boleh anda menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?” Pemuda bertanya. “Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan saudara.” Jawab Guru Agama. 
“Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.” 
Jawab Guru Agama “Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya”


Pemuda : “Saya punya 3 pertanyaan;


1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan kewujudan Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dimaksudkan dengan takdir?
3. Kalau setan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api?, tentu tidak menyakitkan buat syaitan, sebab mereka memiliki unsur yang sama.


Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”


Tiba-tiba Guru Agama tersebut menampar pipi si Pemuda dengan kuat. Sambil menahan kesakitan pemuda berkata “Kenapa anda marah kepada saya?” Jawab Guru Agama “Saya tidak marah… Tamparan itu adalah jawapan saya kepada 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya”.


“Saya sungguh-sungguh tidak faham”, kata pemuda itu. 
Guru Agama bertanya “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. 
“Tentu saja saya merasakan sakit”, jawabnya. 
Guru Agama bertanya ” Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?”. 
Pemuda itu mengangguk tanda percaya. 
Guru Agama bertanya lagi, “Tunjukan pada saya wujud sakit itu!” 
“Tak bisa,” jawap pemuda. 
“Itulah jawapan pertanyaan pertama: kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.” terang Guru Agama.


Guru Agama bertanya lagi, “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”. “Tidak” jawab pemuda. 
“Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?” “Tidak” jawab pemuda. 
“Itulah yang dinamakan Takdir” terang Guru Agama.


Guru Agama bertanya lagi, “Diperbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”. 
“Kulit,” Jawab pemuda. 
“Pipi anda diperbuat dari apa?” 
“Kulit" Jawab pemuda. 
“Bagaimana rasanya tamparan saya?” 
“Sakit.” Jawab pemuda. 
“Walaupun Setan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk
setan.” Terang Guru Agama.





Referensi :
http://archive.kaskus.us/thread/4347408

Sabtu, 17 September 2011

“Tuhan belum selesai dengan saya”


Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil, yang telah mempunyai 8 anak, tiga diantaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankan untuk menggugurkan kandungannya?
Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh satu komponis masyhur dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.
dan…..
Sekarang adalah waktunya untuk memilih seorang pemimpin dunia dan keputusan anda berpengaruh besar terhadap siapa yang akan menjadi pemenang. Berikut adalah fakta mengenai ketiga calon tersebut:
Calon A: dihubung-hubungkan dengan politisi jahat dan sering berkonsultasi dengan astrologis, punya dua istri muda, dia juga seorang perokok berat dan minum 8-10 botol martini setiap harinya.
Calon B: dipecat dua kali dari kantor, selalu bangun sore hari, pernah menggunakan narkoba waktu kuliah dan minum wiski tiap sore.
Calon C: dianggap pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, hanya sesekali minum bir, tidak pernah berselingkuh di luar perkawinannya.
Siapa di antara ketiga calon ini yang akan anda pilih? Anda mungkin tidak akan menduga siapa sebenarnya calon-calon ini.
Calon A adalah Franklin D. Roosevelt
Calon B adalah Winston Churchill
Calon C adalah Adolf Hitler
Sekali lagi sejarah mengajarkan untuk tidak menilai orang dari penampilan.
Refleksi :
Kita tidak selalu tahu apa yang sedang dan masih mungkin terjadi di dalam hati seseorang. Di sanalah (di dalam hati), perjalanan yang sesungguhnya sedang terjadi. Selama kita belum bisa melihat ke dalam hati seseorang dan belum bisa mengikuti proses-proses yang masih berlangsung di dalamnya (dan memang tidak akan pernah bisa), maka sebenarnya selama itulah kita tidak mempunyai hak apapun untuk menghakimi sesama kita.
Mungkin baik bagi kita membiasakan diri untuk melihat secara imajiner, bahwa di dada setiap orang terpampang sebuah kalimat “Tuhan belum selesai dengan saya”



Senin, 15 Agustus 2011

Jerit Si Renta...

Tujuh belas pria
Delapan wanita 
Empat puluh lima anak-anak
Itu Indonesia

Merah meriah 
Putih lagak kita
Bersiap menyongsong viktori
Gemilang, gemuruh, 
Gejolak semusim seperti agenda tahunan

Namun disudut lapangan
Kakek nenek renta murung menatap tiang
Dipuncaknya ada kain
Apa itu masih merah putih yang dulu?

Batin mereka...
Rumusan itu kami yang buat
Kalian tinggal melanjutkan saja

Sistem itu juga, kami yang susun
Kalian hanya sisa mebenahi 

Nasionalisme itu,kami yang tanam
Semoga kalian masih ingat soal itu

Lalu integrasi?
Jangan lupa, kami wafat untuk itu
Dengan raungan 
Dan bukan rengekan

Singkat saja, kami beri kalian warisan
Tanpa manipulasi, egoistis atau kekuatan liar
Berharap kalian punya identitas identik pancasila,
Bukan membebek saja pada sabda teknokrat

Itu wajah kami,
Bagaimana wajah kalian sekarang?

Kami lihat kalian resah bila tak bermodal
Orientasi beralih menuju penumpukan kekuasaan
Semakin keadilan dicanangkan jadi asas pembangunan
Semakin pula keadilan jadi ideal tak kesampaian
Menghukum yang kecil 
Membesarkan yang besar
Hukum dikomoditikan dengan nilai tukar
Lalu jadi jadi momok tua di era sejuta harapan

Ampun Gusti, kami yang salah
Lupa mewariskan akal budi jua
Sehingga hanya kami yang mampu melihat
Merah putih yang kalian samarkan
Sekarang jadi hitam.


Lecon Alfa Privatinum_13'08'11



Selasa, 09 Agustus 2011

Pengakuan sebuah Bendera



Perkenalkan....
Akulah bendera usang itu

Terbuat dari kain murahan
yang di beli dari sebuah pasar kampung yang pernah terbakar
dijahit oleh benang-benang bekas celana dalam para pelacur dan lelaki hidung belang
namun..........
enam puluh enam kali sudah aku berkibar
sambil menyanyikan romantisme kemerdekaan picisan

Akulah bendera usang itu....
yang tak begitu halus menyentuh riasa mereka
lalu meninggalkan luntur pada safari mahal mereka
pada sebuah perayaan meriah

Akulah ini....
bendera usang itu....

Berkibar dengan gugup di ujung sebuah tiang bambu
sembari ragu memandang wajah-wajah tak tahu malu
sekaligus....
akulah bendera yang berkibar dihalaman sebuah Istana
ketika kemerdekaan malah meletuskan sebuah perang

Di depanmu ibu...
Aku mengaku....
Kalau akulah bendera itu

Penyebab sekaligus saksi atas ribuan mayat anak-anakmu

Inilah aku ibu.....
Benderamu......

Yang  memimpikan kelak menjadi Kafan
bagi seorang bocah yang melantukan  Lagu padamu Negeri
di sebuah jalan panas kota ini

Abner Paulus Raya, Agustus 2011


Senin, 08 Agustus 2011

Imperialisme dan Kapitalisme


Senin, 6 Juni 2011 | 14:00 WIB 
Pidato Indonesia Menggugat 
Oleh : Ir. Soekarno
Artinya



Tuan-tuan Hakim yang terhormat!
Di dalam aksi kami sering-sering kedengaran kata-kata “kapitalisme” dan “imperialisme”. Di dalam proses ini, dua perkataana inipun menjadi penyelidikan. Kami antara lain dituduh memaksudkan bangsa Belanda dan bangsa asing lain, kalau umpamanya kami berkata “kapitaisme harus dilenyapkan”. Kami dituduh membahayakan pemerintah kalau kami berseru “rubuhkanlah imperialisme”. Ya, kami dituduhkan berkata bahwa kpitalisme = bangsa Belanda serta bangsa asing lain, dan bahwa imperialisme = pemerintah yang sekarang!

Adakah bisa jadi benar tuduhan ini? Tuduhan ini tidak bisa jadi benar. Kami tidak pernah mengatakan, bahwa kapitalisme = bangsa asing, tidak pernah mengatakan bahwa imperialisme = pemerintah. kami pun tidak pernah memaksudkan bangsa asing kalau berkata; kapitalisme, tidak pernah memaksudkan pemerintah atau ketertiban umum atau apa saja kalau kami berkata imperialisme. Kami memaksudkan kapitalisme kalau kami berkata kapitalisme; kami memaksudkan imperialisme kalau kami berkata imperialisme!

Maka apakah artinya kapitalisme? Tuan-tuan Hakim, di dalam pemeriksaan sudah kami katakan, Kapitalisme adalah sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi. Kapitalisme timbul dari ini cara produksi, yang oleh karenanya, menjadi sebabnya nilai-lebih[1] tidak jatuh di dalam tangan kaum buruh melainkan jatuh di dalam tangan kaum majikan. Kapitalisme, oleh karenanya pula, menyebabkan akumulasi kapital , konsentrasi kapital , sentralisasi kapital , dan industrielle reserve-armée[2] . Kapitalisme mempunyai arah kepada Verelendung[3] (baca: pemelaratan).

Imperialisme bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialisme juga hanya nafsu atau sistem mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain! (Bung Karno)
Haruskah kami di dalam pidato ini masih lebih lebar lagi menguraikan, bahwa kapitalisme itu bukan suatu badan, bukan manusia, bukan suatu bangsa,–tetapi ialah suatu faham, suatu pengertian, suatu sistem? Haruskah kami menunjukkan lebih lanjut, bahwa kapitalisme itu ialah sistem cara produksi, sebagai yang kami telah terangkan dengan singkat itu? Ah, Tuan-tuan Hakim, kami rasa tidak. Sebab tidak ada satu intelektuil yang tidak mengetahui artinya kata itu. Tidak ada satu hal di dunia ini, yang sudah begitu banyak diselidiki dari kanan-kiri, luar dalam, sebagai kapitalisme itu. Tidak ada satu hal di dunia ini, yang begitu luas perpustakaannya, sebagai kapitalisme itu, –hingga berpuluh-uluh jilid, berpuluh-puluh ribu studi dan buku-buku standar dan brosur-brosur tentang itu.

Tetapi apa arti perkataan imperialisme? Imperialisme juga suatu faham, imperialisme juga suatu pengertian. Ia bukan sebagai yang dituduhkan kepada kami itu. Ia bukan ambtenaar binnelandsch bestuur[4], bukan pemerintah, bukan gezag[5], bukan badan apapun jua. Ia adalah suatu nafsu, suatu sistem menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri,–suatu sistem merajai atau mengendalikan ekonomi atau negeri bangsa lain. Ini adalah suatu “kejadian” di dalam pergaulan hidup, yang timbulnya ialah oleh keharusan-keharusan di dalam ekonomi sesuatu negeri atau sesuatu bangsa. Selama ada “ekonomi bangsa”, selama ada “ekonomi negeri”, selama itu dunia melihat imperialisme. Ia kita dapatkan dalam nafsu burung Garuda Rum terbang ke mana-mana, menaklukkan negeri-negeri sekeliling dan di luar Lautan Tengah. Ia kita dapatkan di dalam nafsu bangsa Spanyol menuduki negeri Belanda untuk bisa mengalahkan Inggris, ia kita dapatkan di dalam nafsu kerajaan Timur Sriwijaya menaklukkan negeri semenanjung Malaka, menaklukkan kerajaan Melayu, mempengaruhi rumah tangga negeri Kamboja atau Campa. Ia kita dapatkan di dalam nafsu negeri Majapahit menaklukkan dan mempengaruhi semua kepulauan Indonesia, dari Bali sampai Kalimantan, dari Sumatera sampai Maluku. Ia kita dapatkan di dalam nafsu kerajaan Jepang menduduki semenanjung Korea, mempengaruhi negeri Mancuria, menguasai pulau-pulau di Lautan Teduh. Imperialisme terdapat di semua zaman “perekonomian bangsa”, terdapat pada semua bangsa yang ekonominya sudah butuh pada imperialisme itu. Bukan pada bangsa kulit putih saja ada imperialisme; tapi juga pada bangsa kulit kuning, juga pada bangsa kulit hitam, juga pada bangsa kulit merah sawo sebagai kami,–sebagai terbukti di zaman Sriwijaya dan zaman Majapahit; imperialisme adalah suatu “economische gedetermineerde noodwendigheid”, suatu keharusan yang ditentukan oleh rendah tingginya ekonomi sesuatu pergaulan hidup, yang tak memandang bulu.

Dan sebagai yang tadi kami katakan, –imperialisme bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialisme juga hanya nafsu atau sistem mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain! Ia tak usah dijalankan dengan pedang atau bedil atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa “pengluasan negeri-daerah dengan kekerasan senjata” sebagai yang diartikan oleh van Kol[6] (Seorang anggota parlemen Belanda) –tetapi ia bisa juga berjalan hanya dengan “putar lidah” atau cara “halus-halusan” saja, bisa juga berjalan dengan cara “pénétration pacifique”.

Terutama dalam sifatnya mempengaruhi rumah tangga bangsa lain, imperialisme zaman sekarang sama berbuahkan “negeri-negeri mandat” alias “mandaatgebieden”, daerah-daerah pengaruh” alias “invloedssferen” dan lain-lain sebagainya, sedang di dalam sifatnya menaklukkan negeri orang lain, imperialisme itu berbuah negeri jajahan, –koloniaal-bezit.


*) Diambil dari Risalah “Indonesia Menggugat” yaitu Pidato Pembelaan Bung Karno di depan pengadilan kolonial (landraad) di Bandung, 1930.



[1] Nilai lebih (merrwarde): kelebihan hasil yang diterima majikan, dari produksi kaum buruh.
[2] industrielle reserve-armée: barisan penganggur


[3] Verelendung: Memelaratkan kaum buruh.

[4] ambtenaar BB (binnelandsch bestuur): pegawai pamong praja kolonial belanda


[5] Gezag: kekuasaan.


[6] Van Kol Henri Hubert (1852-1925) , seorang sosialis yang turut mendirikan Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) dan pernah menjadi Menteri Jajahan. Kata-kata ini diucapkan Van Kol dalam sidang Tweede Kamer, 22 November 1901.