Tampilkan postingan dengan label Lely Taolin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lely Taolin. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Juli 2014

Cara Pandang


Cara pandang, dan perilaku dalam melihat dan menginterpretasikan suatu masalah yang terjadi pada seseorang secara berbeda berdasarkan latar belakang dan identitas mereka (latar belakang keluarga, agama, pendidikan, jenis kelamin, kelas/tingkat kedudukan, suku, ekonomi dan lain- lain).
Pengetahuan bersifat tersituasi didalam pengalaman. Pengetahuan tersituasi mengingatkan kita bahwa apa yang kita ketahui dan lakukan tidak berasal dari dalam, melainkan merupakan hasil pembelajaran dari pengalaman- pengalaman kita 
 Yang akhirnya akan membuat seseorang mengambil sikap yang berbeda terhadap sebuah masalah yang terjadi...


Kamis, 17 Juli 2014

Tradisi Mengikat Kaki di China


Ah, terlambat sekali tahu informasi menarik ini. Baru terkaget-kaget saya ketika melihat project dokumenter karya fotografer John Farrell yang dimuat di www.featureshoot.com/2014/07/powerful-photo-series-documents-the-final-generation-of-foot-binding-in-china/
Rasa kagum saya tidak menunggu lama. Melihat foto-fotonya, malah semakin penasaran mencari keseluruhan cerita tentang tradisi ini. Ini beberapa informasi dari website berbeda yang bisa saya rangkum.  Semoga terkaget-kaget juga guys! (yang sudah tahu yah pura-pura sajalah, saya senang - anda sukses beramal :)

Sumber: Marco L., Wikipedia

Tradisi mengikat kaki atau foot binding ini telah mulai ada sejak zaman Dinasti Xia. Catatan sejarah mengenai tradisi ini mulai ditemukan sejak zaman Dinasti Song (960 – 1297 SM).

Pengikatan kaki biasanya dilakukan sejak anak berumur antara empat sampai tujuh tahun karena struktur tulang masih cukup lembut untuk dibentuk. Tradisi ini dibangun atas dasar pandangan masyarakat bahwa berkaki kecil adalah lambang kecantikan seorang wanita. Pandangan ini tidak lepas dari pengaruh Konfusianisme. Salah satunya menekankan pada kesalehan dan pengabdian seorang perempuan sehingga nantinya mampu  mendapatkan suami yang mapan, yang dapat membawa kesejahteraan bagi keluarganya.

Wanita ideal menurut ajaran Neo-Konfusius adalah seorang wanita yang suci, setia, serta tidak mudah mengeluh dalam menanggung penderitaan. Kegigihan dalam menanggung sakit akibat ikatan di kaki dianggap sebagai karakter yang patut ditumbuhkan dalam diri setiap anak perempuan. Karena kakinya yang diikat, anak-anak perempuan juga tidak bisa banyak berjalan, apalagi berlari-lari, sehingga ia akan lebih sering tinggal di rumah.

Sumber: http://life.viva.co.id/

Hal ini menjadikannya seorang wanita yang dipandang anggun dan murni oleh masyarakat. Kesempatan untuk berselingkuh atau berbuat hal-hal yang tidak diinginkan juga kecil bagi wanita-wanita berkaki bunga lotus yang harus selalu ditemani pengasuh. Karena itu, masyarakat Tiongkok yang didominasi pria melegitimasi pengecilan kaki dengan dalih kemurnian dan keanggunan. Selain itu, ketaatan pada keluarga juga sangat dijunjung tinggi dalam ajaran Konfusius. Anak-anak perempuan yang menolak perintah pengikatan kaki sama dengan anak-anak yang tidak taat dan tidak menghargai keluarga yang telah membesarkan mereka.

Ketika anak-anak perempuan ini beranjak remaja, gadis berkaki bunga lotus lebih terpandang dan terhormat, karena pengikatan kaki menunjukkan status sosial yang tinggi dan pribadi yang luhur, karena nilai kemurnian dan ketaatan tadi. Bahkan menurut sumber-sumber dokumen Tiongkok kuno, kaki bunga lotus juga dianggap memiliki daya tarik seksual khusus bagi para pria.

Sumber: http://retnodamayanthi.wordpress.com/

Pengikatan kaki kemudian menjadi syarat pernikahan. Laki-laki tidak akan menikahi perempuan yang kakinya tidak diikat. Sehingga anak perempuan haruslah diikat kakinya supaya dapat dinikahi terutama dengan laki-laki kalangan menengah ke atas. Seorang ibu harus mengikat kaki anak perempuannya sebab kalau tidak maka anak perempuannya hampir pasti tidak akan menikah. Pengikatan kaki bahkan menjadi lambang kesucian, bahwa sekali diikat (dikunci) maka tidak akan bisa dibuka seperti sabuk kesucian

Di zaman Dinasti Song, tradisi ini hanya dipraktikkan oleh wanita dari kelas menengah dan atas. Sampai pada zaman Dinasti Ming baru dipraktikkan secara luas oleh wanita dari suku Han. Tentunya ada beberapa pengecualian di beberapa etnis tertentu semisal etnis Hakka di mana kaum wanitanya harus turun membantu di ladang.

Sumber: www.bbc.com

Pada tahun 1895, komunitas anti-pengikatan kaki mulai terbentuk di Shanghai yang kemudian menjalar ke kota-kota lain dan bahkan di luar negeri. Alasan utama menentang pengikatan kaki adalah penderitaan yang dirasakan oleh perempuan seumur hidupnya. Mereka mulai membuat daftar orang-orang yang tidak akan mengikat kaki anak-anak perempuan mereka dan tidak akan menikahkan anak-anak laki-laki mereka menikahi perempuan yang diikat kakinya sehingga para orang tua tidak perlu kuatir anaknya tidak dapat menikah.

Akhirnya pada tahun 1911 melalui Revolusi Sun Yat Sen, tradisi pengikatan kaki benar-benar dilarang. Tapi yang namanya tradisi tidak bisa dihentikan sekejap mata. Meski sudah dilarang, praktek ini masih terus dilakukan di masyarakat pedesaan sampai 1939.

Sumber: http://indonesian.cri.cn/
Di Tiongkok, wanita berkaki bunga lotus sudah sangat jarang dijumpai. Mereka adalah wanita-wanita yang sudah berumur tujuh puluh tahun lebih. Menurut Kantor Berita Xinhua, pabrik sepatu bunga lotus terakhir di Harbin sudah mengakhiri produksi sepatu mungil untuk kaki bunga lotus pada tahun 1998.

Yang belum punah juga dari peradaban manusia adalah upaya wanita untuk melakukan banyak hal terhadap tubuhnya demi mencapai suatu standar kecantikan yang dirumuskan oleh masyarakat sekitarnya. Hal ini tidak hanya terjadi pada wanita Timur atau Tiongkok saja.

Di Barat, operasi kecantikan terhadap payudara, operasi bentuk wajah, berjemur di bawah terik matahari, maupun hal-hal lain dilakukan oleh wanita, meskipun kegiatan-kegiatan tersebut tidak menguntungkan bagi kesehatan alami tubuh mereka. Dari sudut pandang ini, wanita di seluruh dunia ternyata memiliki akar cara pandang yang ternyata susah untuk ditinggalkan.

Jo Farrell Photography
Kaki saya dan suami

Nah, bagi para perempuan hebat selain saya *he stop tipu-tipu e...gubrakkk!*, apapun bentuk tubuh kita janganlah risih. Hidup itu adalah belajar mensinkronkan hati dan otak (pikiran), di mana kita harus melihat realita kehidupan yang bervariasi dan beragam.

Saya masih percaya, a woman with a beautiful body is good for a night, but a woman with a beutiful mind is always be good for a lifetime *bighug* :)


*Dari berbagai sumber

Selasa, 18 Februari 2014

Faktor Human Error di Museum NTT

Di postingan saya sebelumnya, tentang Mengapa Harus Mengunjungi Museum?, saya sempat menyinggung tentang faktor human error yang mempengaruhi transfer nilai dibalik sebuah koleksi kepada masyarakat. Kali ini, saya ingin memperjelas tentang human error di Museum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tentang human error, penyebab terbesarnya datang dari dalam badan museum sendiri. Setahu saya, banyak orang dari disiplin ilmu yang berkaitan langsung dengan museum, tidak mengabdi di museum. Seperti orang-orang yang berlatar belakang ilmu arkeologi, sosiologi, kimia, biologi, sastra inggis, S2 museologi. Aplikasi ilmu mereka akhirnya tidak terserap langsung ke museum. Tenaga yang ada di museum saat ini, 75% adalah tamatan SD, SMP, SMA. Sisanya, lulusan S1 (ilmu sosial, sastra inggris, filsafat, ekonomi) dan terdapat 3 orang lulusan S2. Dua diantaranya S2 museologi yakni Kepala Museum dan Kepala Seksi Bimbingan Edukasi.

Soal kinerja, bagi saya masih belum maksimal walaupun tenaga khusus museologi ada disitu tapi tidak membawa dampak berarti bagi museum.
Human error yang kedua datang dari pengunjung. Di Museum NTT, skeleton/rangka mamalia Paus yang jadi salah satu koleksi masterpiece ini dipenuhi coretan spidol dari depan sampai belakang. Coretan ini saya yakini datang dari anak-anak SMA dan kuliahan karena model huruf yang sangat teratur dan bagus.

Setiap hari minimal satu pengunjung pasti ada, namun sering juga tidak ada pemandu sehingga dalam beberapa kasus, pengunjung dipandu oleh tenaga kebersihan ataupun satpam. Dan petungas pemandu sering kali juga diskriminatif. Mereka lebih bersemangat jika memandu grup atau rombongan pengunjung karena bayarannya membuat anda tersenyum girang. Bagi pengunjung dalam jumlah kecil, katakanlah satu atau dua orang saja, sering diabaikan.
Nah bagaimana nilai tradisi dibalik koleksi bisa tersampaikan dengan baik jika hal seperti ini terus berlangsung? Tentunya tidak ada kesan lagi untuk orang datang yang kedua kalinya. Mereka akhirnya 'tidak merindukan museum'.

Dan setahu saya hampir tidak ada keluhan yang tercatat di buku tamu museum padahal kritik di luar banyak. Maka dari itu, saya coba ungkapkan agar agan-agan bisa memberi masukan untuk memperbaiki kinerja kami.

Sedikit saya tambahkan, bekerja dalam lingkup museum pemerintah itu gampang, susah-susah. (Lha kok?!)

Gampangnya karena museum memberi kesempatan mengembangkan diri dan ilmu melalui pembelajaran dengan benda budaya serta nilai di lapangan. Susah-susahnya lebih kepada, tidak semua pekerja museum memiliki motivasi dan inisiatif yang sama untuk mengembangkan instansi ini menjadi lebih baik. Yah namanya juga PNS atau ASN (Aparat Sipil Negara), kerja tidak kerja tetap terima gaji tanpa diikuti tanggung jawab profesi dan moral. Yang saya alami disini juga sama. Lebih banyak yang terjadi adalah saling mencibir. Saya sering disindir bahkan dimusuhi karena dituding membicarakan dan menjatuhkan orang di dunia maya.

Membela diri bukan tujuan tulisan ini. Yang saya lakukan adalah mengkampanyekan Museum NTT terus dan terus. Jika ada elemen yang tidak berjalan di dalam badan museum, perlu saya ungkapkan agar tidak dinilai bahwa pekerja museum tidak becus melaksanakan tugas.
Ungkapan saya pastinya bersifat subjektif, tapi sangat bisa dipertanggungjawabkan mengingat hasil pencapaian museum yang tidak maksimal karena kendala terbesar adalah sebagian pekerja museum bekerja dengan pamrih - walaupun sudah diberi pamrih tetap saja kurang bertanggungjawab.

Mungkin ini bisa dijadikan jawaban pas untuk saya dan teman-teman di Museum NTT.
Mungutip kembali pernyataan teman saya, Ape Djami, bahwa;
Ini bukan soal SDM. Ini tentang komitmen pribadi sebagai manusia NTT yang kebetulan PNS untuk bikin museum lebe bae...
(Ini bukan soal SDM. Ini tentang komitmen pribadi sebagai manusia NTT yang kebetulan PNS untuk menjadikan museum lebih baik... )
Bagian sirip mamalia paus yang ditulisi pengunjung

Setelah dikonservasi

Membersihkan salah satu bagian koleksi skeleton mamalia paus
*Jika kita sudah berusaha, maka kekurangan kita tidak akan menjadi momok untuk diungkapkan ke masyarakat. Sebaliknya, akan menjadi usaha mencari jalan keluar yang terbaik. Momok hanya ada pada orang yang tidak berusaha dan mengabaikan potensinya. (Lely Taolin)